Kehidupan serba cepat yang terjadi saat ini, terutama di lingkungan perkotaan,
membuat masyarakat hidup dengan tergesa-gesa sehingga memberikan dampak
yang buruk terhadap kesehatan masyarakat, terutama kesehatan mental. Penulis
merefleksikan urgensi mengambil jeda dari kesibukan untuk memulihkan kondisi
jiwa dan raga. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk pemulihan tersebut
adalah dengan berinteraksi dengan alam, tetapi kondisi lingkungan urban
cenderung memberikan keterbatasan terhadap akses ke alam terbuka. Ketertarikan
pribadi terhadap pengamatan burung disadari penulis sebagai sarana untuk
mengambil jeda dari aktivitas yang padat. Kegiatan tersebut relatif mudah
dilakukan karena cukup dengan mengamati burung-burung liar untuk terhubung
kembali dengan alam di tengah hiruk-pikuk lingkungan urban. Ketertarikan penulis
ini digagaskan ke dalam karya melalui medium etsa yang khas, kompleks, dan
memakan waktu, untuk membahas persoalan jeda. Penggunaan alat bantu kamera
untuk mendapatkan pandangan teleskopik menjadi bagian dari pengalaman
rekreatif yang membantu memulihkan diri ini. Visual yang dimuat pada setiap
karya merupakan penggambaran dari burung-burung yang pernah dijumpai secara
langsung saat melakukan pengamatan di lingkungan sekitar. Pendekatan yang
mimesis juga menjadi upaya penulis dalam melawan ketergesaan dengan secara
sadar mengenali burung-burung tersebut lebih lanjut. Namun, penciptaan karya ini
bukan sekadar meniru objek dari alam, tetapi juga melibatkan persepsi pribadi dan
merepresentasikan pengalaman pribadi penulis. Karya ini menjadi respons terhadap
pergerakan keseharian yang terlalu cepat, juga menjadi pengingat bagi apresiator
untuk mengambil jeda.
Perpustakaan Digital ITB