Indonesia memiliki cadangan Rare Earth Elements (REE) yang signifikan secara
global di Bangka-Belitung, namun belum mewujudkan kilang pengolahan terpadu
di hilir. Pembiayaan proyek konvensional tidak mampu memperhitungkan tiga
risiko yang saling berkaitan — volatilitas harga keranjang REE, kendala sovereign
ceiling yang membatasi peringkat kredit BUMN pada batas peringkat kedaulatan
Indonesia, dan ketidakpastian tingkat pemulihan pemisahan kimia REE —
sehingga menciptakan kesenjangan pembiayaan struktural yang menghalangi
kebijakan hilirisasi untuk mengubah pasir mineral berat kaya monasit menjadi
rantai pasokan Separated Rare Earth Oxides yang berbasis domestik.
Dengan rancangan metode campuran pragmatis (Analisis Tekno-Ekonomi,
pemodelan arus kas terdiskonto, analisis sensitivitas dan pengujian stres; serta
wawancara ahli semi-terstruktur dengan OJK, BAPETEN, BAPPENAS, praktisi
keuangan terstruktur, praktisi hukum, dan manajemen senior Perminas), penelitian
ini mengkaji Future Flow Asset Securitization (SA) melalui tiga lini pertanyaan:
pengukuran kumpulan aset yang dapat disekuritisasi, perancangan struktur SA
yang sesuai regulasi Indonesia, serta pembandingan SA dengan pembiayaan
proyek konvensional pada dimensi keuangan dan non-keuangan.
Proyek terpadu tiga provinsi (Bangka-Belitung, Sulawesi Barat, Aceh; CAPEX
USD 1.048 juta; NPV USD 192,5 juta; IRR 15,6%) layak pada baseline namun
tidak memadai secara struktural di bawah pembiayaan konvensional; piutang ko
mineral di Blok Tami'ang memberikan peningkat kredit alami pada empat kategori
aset yang dapat disekuritisasi (RQ1). SPV luar negeri yang terlindungi dari
kebangkrutan dengan True Sale melalui empat jalur regulasi (ESDM, KIK-EBA,
DBH, perizinan subnasional) dapat diimplementasikan dalam kerangka POJK
(RQ2). SA berpotensi menghasilkan pengurangan Biaya Modal 200–600 basis poin
di atas sovereign ceiling, tenor sesuai Life of Mine, DSCR terjaga dalam kondisi
stres, dan kapasitas CAPEX penuh melalui tranching — mengungguli pada tiga
dari empat dimensi non-keuangan (RQ3).
Studi ini membawa Sekuritisasi Aliran Kas Masa Depan ke ranah kumpulan multi
aset ko-mineral dalam arsitektur KIK-EBA. Secara praktis, penelitian ini
menghasilkan cetak biru struktural bagi Perminas, jalur operasionalisasi KIK-EBA
bagi OJK, serta referensi koordinasi bagi BAPPENAS dalam kerangka RPJMN.
Perpustakaan Digital ITB