digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Padepokan Seni Mayang Sunda merupakan salah satu pusat kegiatan seni dan budaya yang berlokasi di Kota Bandung. Tempat ini memiliki peran penting sebagai wadah pelestarian, pembelajaran, sekaligus pertunjukan berbagai bentuk kesenian, baik yang berakar dari tradisi Sunda seperti tari, karawitan, dan teater rakyat, maupun bentuk ekspresi seni lintas budaya yang lebih modern. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat urban, fungsi serta karakter ruang di dalam padepokan ini belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan aktivitas seni yang semakin beragam, dinamis, dan inklusif. Kondisi eksisting yang belum adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern membatasi pengalaman pengguna, baik dari segi kenyamanan, fleksibilitas, hingga daya tarik visual. Situasi tersebut membuka peluang untuk menghadirkan kembali wajah baru padepokan melalui proses perancangan yang lebih responsif terhadap perkembangan budaya serta kebutuhan ruang pertunjukan di masa kini. Upaya redesain padepokan ini berangkat dari kebutuhan untuk menciptakan ruang budaya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa melepaskan akar tradisionalnya. Pendekatan adaptasi transkultural diterapkan sebagai landasan konseptual untuk menjembatani antara tradisi dan modernitas yang menghadirkan komposisi antara nilai-nilai lokal dengan tuntutan estetika serta kebutuhan ruang masa kini. Melalui proses yang berfokus pada penciptaan keseimbangan antara nilai tradisi dan modernitas, nilai-nilai budaya tidak sekadar dihadirkan sebagai ornamen simbolik, melainkan diolah kembali menjadi bagian yang menyatu dalam pengalaman ruang yang hidup dan relevan dengan konteks masa kini. Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bentuk ruang, proses perancangan dilakukan melalui observasi langsung terhadap kondisi eksisting padepokan, analisis kebutuhan pengguna dan aktivitas ruang, studi literatur mengenai nilai-nilai budaya dan pendekatan adaptasi transkultural, hingga studi pembanding terhadap ruang pertunjukan sejenis. Hasil dari proses analisis tersebut kemudian menjadi dasar dalam merumuskan strategi desain yang menyeimbangkan antara fungsi, identitas, dan pengalaman ruang. Elemen visual dan material khas Sunda diinterpretasikan secara kontekstual dan dipadukan dengan penerapan teknologi modern seperti sistem pencahayaan adaptif, media proyeksi, serta tata akustik interaktif untuk menghadirkan pengalaman pertunjukan yang lebih imersif tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional. Penerapan layout modular dan pemilihan material alami menjadi pendekatan utama untuk menciptakan ruang yang fleksibel terhadap berbagai bentuk kegiatan seni sekaligus menegaskan karakter budaya sebagai identitas utama padepokan. Melalui perancangan ini, ruang tidak hanya diperbarui secara fungsional dan estetis, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai wadah budaya yang relevan, inspiratif, dan mampu menjembatani tradisi dengan dinamika kehidupan modern.