Padepokan Seni Mayang Sunda merupakan salah satu pusat kegiatan seni dan
budaya yang berlokasi di Kota Bandung. Tempat ini memiliki peran penting sebagai
wadah pelestarian, pembelajaran, sekaligus pertunjukan berbagai bentuk kesenian,
baik yang berakar dari tradisi Sunda seperti tari, karawitan, dan teater rakyat,
maupun bentuk ekspresi seni lintas budaya yang lebih modern. Seiring dengan
perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat urban, fungsi serta
karakter ruang di dalam padepokan ini belum sepenuhnya mampu mengakomodasi
kebutuhan aktivitas seni yang semakin beragam, dinamis, dan inklusif. Kondisi
eksisting yang belum adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern membatasi
pengalaman pengguna, baik dari segi kenyamanan, fleksibilitas, hingga daya tarik
visual. Situasi tersebut membuka peluang untuk menghadirkan kembali wajah baru
padepokan melalui proses perancangan yang lebih responsif terhadap
perkembangan budaya serta kebutuhan ruang pertunjukan di masa kini.
Upaya redesain padepokan ini berangkat dari kebutuhan untuk menciptakan ruang
budaya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa melepaskan
akar tradisionalnya. Pendekatan adaptasi transkultural diterapkan sebagai landasan
konseptual untuk menjembatani antara tradisi dan modernitas yang menghadirkan
komposisi antara nilai-nilai lokal dengan tuntutan estetika serta kebutuhan ruang
masa kini. Melalui proses yang berfokus pada penciptaan keseimbangan antara nilai
tradisi dan modernitas, nilai-nilai budaya tidak sekadar dihadirkan sebagai ornamen
simbolik, melainkan diolah kembali menjadi bagian yang menyatu dalam
pengalaman ruang yang hidup dan relevan dengan konteks masa kini.
Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bentuk ruang, proses
perancangan dilakukan melalui observasi langsung terhadap kondisi eksisting
padepokan, analisis kebutuhan pengguna dan aktivitas ruang, studi literatur
mengenai nilai-nilai budaya dan pendekatan adaptasi transkultural, hingga studi
pembanding terhadap ruang pertunjukan sejenis. Hasil dari proses analisis tersebut
kemudian menjadi dasar dalam merumuskan strategi desain yang menyeimbangkan
antara fungsi, identitas, dan pengalaman ruang. Elemen visual dan material khas
Sunda diinterpretasikan secara kontekstual dan dipadukan dengan penerapan
teknologi modern seperti sistem pencahayaan adaptif, media proyeksi, serta tata
akustik interaktif untuk menghadirkan pengalaman pertunjukan yang lebih imersif
tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional. Penerapan layout modular dan
pemilihan material alami menjadi pendekatan utama untuk menciptakan ruang yang
fleksibel terhadap berbagai bentuk kegiatan seni sekaligus menegaskan karakter
budaya sebagai identitas utama padepokan. Melalui perancangan ini, ruang tidak
hanya diperbarui secara fungsional dan estetis, tetapi juga dihidupkan kembali
sebagai wadah budaya yang relevan, inspiratif, dan mampu menjembatani tradisi
dengan dinamika kehidupan modern.
Perpustakaan Digital ITB