Plant-derived exosome-like nanovesicles (PDENs) berkembang pesat sebagai nanopembawa yang aman, biokompatibel, dan terbarukan; namun buah tropis berlipid tinggi masih jarang dieksplorasi karena sulit diisolasi. Disertasi ini mengangkat Pandanus conoideus (buah merah Papua), sebagai sumber alami ?-tokoferol, karotenoid, dan asam lemak tak jenuh (~98-99% lipid) untuk pertama kalinya sebagai reservoir PDENs, dengan dua sasaran utama: (i) mengembangkan alur isolasi polietilen glikol (PEG 6000) yang disesuaikan dengan tipe matriks (fresh fruit/RFF, simplisia/RFS, oil/RFO) sekaligus mengkarakterisasi ukuran, morfologi, dan komposisi molekular partikel; dan (ii) mengevaluasi aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, anti-penuaan, serta wound-healing RFO-PDENs pada model sel RAW 264.7 (makrofag) dan HDF (fibroblas dermal).
Optimisasi PEG 6000 (3-15%) dipadukan dengan sentrifugasi diferensial dan filtrasi syringe berhasil menghasilkan populasi PDENs yang berbeda per matriks. RFF menghasilkan partikel polidispers 170-360 nm; RFS menghasilkan vesikel 225-525 nm dengan agregasi tinggi; sementara RFO menghasilkan populasi paling homogen dengan diameter dominan 30-150 nm (NTA), PI rendah (0.2-0.4 pada 3-5% PEG), morfologi bilayer sferis (TEM), dan konsentrasi hingga 1,2 × 1010 partikel/mL. Jendela PEG optimal untuk RFO adalah 8-10%. Metabolomik LC-HRMS untargeted mengungkap muatan dominan asam lemak dan oksilipin, amida asam lemak rantai panjang, sfingolipid/keramid, asam amino, peptida siklik, serta senyawa khas P. conoideus (?-tokoferol, ?/?-karoten, dan asam azelaat). Analisis proteomik label-free menemukan proteom kompleksitas rendah yang diperkaya protein ribosomal plastid/mitokondria, sitokrom b6f VI, dan lectin/lectin receptor-like kinase, menandai permukaan vesikel yang kaya lektin dan berpotensi sebagai signaling candidate. Akan tetapi, kemungkinan terjadinya kopresipitasi komponen yang berasal dari matriks atau proses pembuatan tidak dapat dikesampingkan, misal keberadaan 4-undecylbenzenesulfonic acid.
Pada evaluasi fungsional, kadar protein RFO-PDENs (BCA) adalah 266 ± 30 ?g/mL (n=3 ulangan teknis). RFO-PDENs memiliki jendela kerja 10-50 ?g/mL
yang aman terhadap RAW 264.7 dan HDF (viabilitas ?80%). Aktivitas antioksidan DPPH berkisar 30,6-57,2% pada 10-200 ?g/mL (IC50 ? 191 ?g/mL). Pada makrofag terinduksi LPS, supresi NO signifikan pada 50 ?g/mL, dan penurunan IL-6 signifikan pada 50-70 ?g/mL. Pada HDF, sintesis Col-1 memuncak pada 50 ?g/mL disertai penurunan MMP-1 dosis-tergantung (p<0,01 pada 50 ?g/mL; p<0,001 pada 70 ?g/mL) dan reduksi ROS terbaik ~39% pada 30 ?g/mL. Uji scratch pada HDF menunjukkan seluruh grup mencapai closure ~99-100% pada 72 jam, dengan pola treatment-associated delay pada 0-48 jam. Secara kolektif, disertasi ini menghadirkan cetak biru isolasi PDENs pada matriks lipid pekat dan bukti awal RFO-PDENs sebagai kandidat nanopembawa nutrasetika/dermal untuk aplikasi antioksidan, anti-inflamasi, anti-penuaan, dan regenerasi kulit.
Perpustakaan Digital ITB