digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Transportasi umum pada kawasan pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas komunitas akademis menuju pusat-pusat aktivitas pendidikan. Namun, kebutuhan perjalanan tidak hanya ditentukan oleh karakteristik layanan transportasi, melainkan juga terbentuk dari sistem aktivitas individu yang berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu. Kondisi tersebut menjadi penting pada layanan Metro Jabar Trans (MJT) Koridor 5 DipatiukurJatinangor yang menghubungkan Kota Bandung dengan Kawasan Pendidikan Jatinangor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sistem aktivitas pendidikan terhadap ridership MJT Koridor 5 dalam perspektif Activity System Approach. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data kuesioner dan data operasional layanan MJT. Sebanyak 477 responden kuesioner diperoleh dengan 406 responden atau 85,1% melakukan perjalanan untuk tujuan akademik dengan pola spasial yang terkonsentrasi pada Halte UNPAD Dipatiukur sebagai simpul keberangkatan utama dan pola waktu yang selaras dengan jam mulai aktivitas wajib pada pagi hari. Ridership tahunan sebesar 1.581.931 penumpang menunjukkan rata-rata lebih tinggi pada periode perkuliahan aktif (140.824 penumpang/bulan) dibandingkan periode libur semester (108.471 penumpang/bulan), dengan pola serupa pada level harian di mana hari kerja mencatat ridership 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan akhir pekan. Pengaruh sistem aktivitas pendidikan terhadap frekuensi penggunaan MJT dianalisis menggunakan regresi logistik ordinal dengan mengendalikan tingkat semester, kepemilikan kendaraan pribadi, dan SIM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem aktivitas pendidikan memiliki keterkaitan yang signifikan dengan frekuensi ridership MJT Koridor 5. Aktivitas wajib dan aktivitas pemeliharaan menunjukkan hubungan positif dengan frekuensi ridership, masingmasing dengan odds ratio sebesar 1,441 dan 1,336, sedangkan aktivitas pilihan menunjukkan hubungan negatif dengan odds ratio sebesar 0,542. Ridership juga cenderung lebih tinggi padav periode perkuliahan aktif dan hari kerja, dengan pola perjalanan yang terkonsentrasi pada waktu pagi. Sementara itu, kepemilikan kendaraan pribadi menunjukkan hubungan negatif yang signifikan terhadap frekuensi ridership, sedangkan tingkat semester dan kepemilikan SIM tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ridership MJT Koridor 5 merupakan bagian dari sistem aktivitas individu, sehingga karakteristik, frekuensi, keterkaitan ruang-waktu, serta ketersediaan alternatif moda perlu dipertimbangkan dalam memahami dan merencanakan kebutuhan transportasi pada kawasan pendidikan.