Transportasi umum pada kawasan pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung
mobilitas komunitas akademis menuju pusat-pusat aktivitas pendidikan. Namun, kebutuhan
perjalanan tidak hanya ditentukan oleh karakteristik layanan transportasi, melainkan juga
terbentuk dari sistem aktivitas individu yang berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu.
Kondisi tersebut menjadi penting pada layanan Metro Jabar Trans (MJT) Koridor 5 DipatiukurJatinangor yang menghubungkan Kota Bandung dengan Kawasan Pendidikan Jatinangor.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sistem aktivitas pendidikan terhadap
ridership MJT Koridor 5 dalam perspektif Activity System Approach. Penelitian dilakukan
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data kuesioner dan data operasional layanan MJT.
Sebanyak 477 responden kuesioner diperoleh dengan 406 responden atau 85,1% melakukan
perjalanan untuk tujuan akademik dengan pola spasial yang terkonsentrasi pada Halte UNPAD
Dipatiukur sebagai simpul keberangkatan utama dan pola waktu yang selaras dengan jam mulai
aktivitas wajib pada pagi hari. Ridership tahunan sebesar 1.581.931 penumpang menunjukkan
rata-rata lebih tinggi pada periode perkuliahan aktif (140.824 penumpang/bulan) dibandingkan
periode libur semester (108.471 penumpang/bulan), dengan pola serupa pada level harian di
mana hari kerja mencatat ridership 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan akhir pekan. Pengaruh
sistem aktivitas pendidikan terhadap frekuensi penggunaan MJT dianalisis menggunakan
regresi logistik ordinal dengan mengendalikan tingkat semester, kepemilikan kendaraan
pribadi, dan SIM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem aktivitas pendidikan memiliki
keterkaitan yang signifikan dengan frekuensi ridership MJT Koridor 5. Aktivitas wajib dan
aktivitas pemeliharaan menunjukkan hubungan positif dengan frekuensi ridership, masingmasing dengan odds ratio sebesar 1,441 dan 1,336, sedangkan aktivitas pilihan menunjukkan
hubungan negatif dengan odds ratio sebesar 0,542. Ridership juga cenderung lebih tinggi padav
periode perkuliahan aktif dan hari kerja, dengan pola perjalanan yang terkonsentrasi pada
waktu pagi. Sementara itu, kepemilikan kendaraan pribadi menunjukkan hubungan negatif
yang signifikan terhadap frekuensi ridership, sedangkan tingkat semester dan kepemilikan SIM
tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ridership
MJT Koridor 5 merupakan bagian dari sistem aktivitas individu, sehingga karakteristik,
frekuensi, keterkaitan ruang-waktu, serta ketersediaan alternatif moda perlu dipertimbangkan
dalam memahami dan merencanakan kebutuhan transportasi pada kawasan pendidikan.
Perpustakaan Digital ITB