DAFTAR PUSTAKA SYIFAA BELVANIA
EMBARGO  2029-09-21 
EMBARGO  2029-09-21 
LAMPIRAN SYIFAA BELVANIA
EMBARGO  2029-09-21 
EMBARGO  2029-09-21 
Perubahan paradigma pariwisata dari object-based tourism menuju experience-based tourism mendorong kebutuhan akan lingkungan wisata yang mampu mendukung pengalaman wisatawan, termasuk melalui aktivitas berjalan kaki. Kawasan Braga–Asia Afrika sebagai kawasan wisata perkotaan dan urban tourism precinct memiliki konsentrasi daya tarik wisata, aktivitas ekonomi, sejarah, dan budaya yang memungkinkan wisatawan melakukan perjalanan antardestinasi dengan berjalan kaki. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh kualitas lingkungan pejalan kaki yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi dan persepsi wisatawan terhadap walkability jalur pejalan kaki pada kawasan wisata Braga–Asia Afrika Kota Bandung sebagai dasar arahan pengembangan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada 200 wisatawan, dilengkapi dengan observasi lapangan. Analisis dilakukan melalui penilaian tingkat kepentingan dan kinerja terhadap 30 atribut walkability yang mencakup aksesibilitas, konektivitas, keselamatan, keamanan, kenyamanan, wayfinding, daya tarik visual, aktivitas jalan, dan amenitas pendukung menggunakan skala Likert kemudian dianalisis menggunakan Importance–Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisatawan cenderung melakukan perjalanan multi-destinasi, dengan 78% responden mengunjungi 2–7 destinasi dalam satu perjalanan. Secara umum, atribut walkability dinilai penting hingga sangat penting, sedangkan kinerja rata-rata Kawasan Braga sebesar 4,07 dan Asia Afrika sebesar 4,34. Hasil analisis IPA menunjukkan adanya perbedaan prioritas pengembangan pada kedua kawasan, terutama pada aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, wayfinding, dan amenitas pendukung. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Braga–Asia Afrika memiliki potensi walkability yang mendukung aktivitas wisata multi-destinasi, namun peningkatan kualitas jalur pejalan kaki masih diperlukan secara kontekstual sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing kawasan.
Perpustakaan Digital ITB