digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penuaan kulit merupakan proses biologis yang dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik, seperti paparan sinar ultraviolet yang menginduksi pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dan mendegradasi kolagen. Untuk mengatasi gejala penuaan, telah dikembangkan berbagai senyawa aktif sebagai bahan utama produk kosmetika. Aspek keamanan sediaan topikal tersebut harus dievaluasi secara ketat demi menjamin keamanan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji profil toksisitas dan keamanan dari 12 senyawa potensial anti-aging, yaitu alfa arbutin, asam askorbat, bisabolol, asam ferulat, asam glikolat, asam laktat, asam maltobionat, niacinamide, pantenol, asam suksinat, feniletil resorsinol, dan asam traneksamat. Penelitian dilakukan melalui prediksi toksisitas secara in silico menggunakan program Toxtree dan pkCSM serta validasi biologis secara in vivo dengan metode Fish Embryo Acute Toxicity (FET) pada embrio zebrafish (Danio rerio) berdasarkan pedoman OECD Guideline Test No. 236. Metode FET dilakukan untuk menentukan LC50 dari senyawa uji dengan pemaparan zat uji pada embrio zabrafish selama 96 jam, mortalitas diamati dengan empat parameter, yaitu koagulasi embrio, kegagalan pembentukan somit, kegagalan pelepasan ekor dari kuning telur, dan tidak adanya detak jantung. Hasil prediksi in silico dengan Toxtree menunjukkan bahwa alfa arbutin, asam ferulat, asam glikolat, asam laktat, dan asam suksinat termasuk dalam Cramer Kelas I (toksisitas rendah), sedangkan tujuh senyawa lainnya termasuk dalam Cramer Kelas III (toksisitas tinggi) karena kompleksitas strukturnya. Toxtree mendeteksi adanya structural alerts sensitisasi kulit pada asam askorbat, asam ferulat, asam traneksamat, dan feniletil resorsinol, sementara pkCSM memprediksi potensi sensitisasi kulit spesifik pada bisabolol dan feniletil resorsinol. Pada pengujian toksisitas akut in vivo melalui limit test (100 bpj), sebanyak 11 dari 12 senyawa menunjukkan LC50 > 100 bpj sehingga dikategorikan sebagai senyawa yang praktis tidak toksik menurut standar OECD. Senyawa feniletil resorsinol menunjukkan profil toksisitas akut yang signifikan dengan mortalitas embrio mencapai 100% pada konsentrasi 100 bpj. Melalui uji definitif (full study test), diperoleh nilai LC50 untuk feniletil resorsinol sebesar 6,882 bpj sehingga termasuk ke dalam kategori senyawa toksik.