digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Aditya Setiawanda
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Bangunan Confined Masonry merupakan salah satu sistem struktur yang banyak digunakan pada bangunan rumah tinggal di Indonesia karena mampu meningkatkan perilaku dinding pasangan bata terhadap beban gempa melalui elemen pengikat berupa kolom dan balok. Meskipun demikian, hingga saat ini ketersediaan kurva kerentanan khusus untuk bangunan Confined Masonry masih terbatas sehingga evaluasi risiko gempa untuk bangunan ini belum dapat dilakukan dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kurva kerentanan bangunan Confined Masonry menggunakan pendekatan analisis numerik serta membangun model prediksi berbasis Gaussian Process Regression (GPR) untuk memperkirakan parameter kurva pada konfigurasi bangunan yang belum dianalisis secara langsung. Penelitian dilakukan dengan memodelkan bangunan Confined Masonry menggunakan pendekatan numerik Vertical Diagonal Strut Model (VDSM). Variasi model meliputi bangunan satu hingga tiga lantai dengan kombinasi jarak antar kolom dan tinggi kolom yang berbeda. Analisis dilakukan menggunakan Incremental Dynamic Analysis (IDA) terhadap sebelas rekaman gempa yang telah disesuaikan dengan spektrum respons target melalui proses spectral matching. Tingkat kerusakan ditentukan berdasarkan batas interstory drift ratio sebesar 0,1%, 0,3%, dan 0,5% yang masing-masing merepresentasikan Damage State 1, Damage State 2, dan Damage State 3. Data hasil IDA selanjutnya digunakan untuk memperoleh parameter median dan beta kurva kerentanan, yang kemudian dijadikan data pelatihan model GPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurva kerentanan berhasil dikembangkan untuk seluruh variasi model bangunan sehingga mampu menggambarkan probabilitas tercapainya setiap tingkat kerusakan terhadap intensitas gempa. Variasi geometri bangunan memberikan pengaruh terhadap parameter kurva kerentanan, dengan penambahan lantai memberikan pengaruh besar untuk perubahan median dan beta pada Damage State 1, kemudian jarak antar kolom menunjukkan pengaruh yang lebih signifikan pada Damage State 2 dan Damage State 3. Model GPR yang dikembangkan mampu mempelajari hubungan antara parameter geometri bangunan dengan parameter kurva kerentanan sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan nilai median dan beta pada konfigurasi bangunan yang belum dianalisis secara numerik. Namun dengan batasan variasi bangunan harus berada di dalam parameter maksimum. Pendekatan ini memungkinkan pengurangan jumlah simulasi nonlinear yang diperlukan tanpa mengurangi kemampuan prediksi parameter kurva kerentanan secara signifikan. Sehingga penelitian ini menghasilkan kurva kerentanan khusus bangunan Confined Masonry yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan model estimasi kerugian akibat gempa di Indonesia.