Ketidakstabilan lereng merupakan salah satu persoalan geoteknik yang dapat memengaruhi keselamatan, kelancaran produksi, dan keberlanjutan kegiatan penambangan terbuka. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model regresi logistik untuk memprediksi probabilitas kestabilan lereng berdasarkan enam parameter, yaitu berat isi (????), kohesi (????), sudut gesek dalam (????), sudut lereng (????), tinggi lereng (????), dan rasio tekanan air pori (????????). Data yang digunakan terdiri atas 168 kasus, dengan komposisi 84 kondisi stabil dan 84 kondisi longsor. Tujuh formulasi model dikembangkan. Model 1 sampai Model 5 menggunakan enam prediktor secara terpisah dengan variasi transformasi sudut lereng, sedangkan Model 6 dan Model 7 menggunakan dua parameter gabungan tak berdimensi. Pemodelan dilakukan pada lima skenario, yaitu data aktual, data hasil cut Tukey, serta data Empirical Rule ????=1, ????=2, dan ????=3. Koefisien model diestimasi menggunakan Maximum Likelihood Estimation. Kelayakan model diperiksa melalui events per variable, Variance Inflation Factor, separation, konvergensi, dan Likelihood Ratio Test, sedangkan kinerja klasifikasi dievaluasi menggunakan confusion matrix, akurasi, sensitivitas, spesifisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh model pada data aktual, Tukey, ????=2, dan ????=3 signifikan secara kelompok. Skenario ????=1 menghasilkan akurasi tinggi, tetapi mengalami separation, jumlah data yang terbatas, EPV rendah, sehingga tidak digunakan sebagai dasar pemilihan model. Model 7 menunjukkan kinerja paling baik dan konsisten. Pada data aktual, Model 7 menghasilkan akurasi 84,52%. Akurasi Model 7 pada data Tukey, ????=2, dan ????=3 masing-masing sebesar 84,62%, 86,99%, dan 85,44%. Model 7 lebih mampu merepresentasikan interaksi antara kekuatan material, geometri lereng, dan tekanan air pori serta menghasilkan jumlah kondisi longsor yang diprediksi stabil lebih sedikit dibandingkan model lainnya.
Perpustakaan Digital ITB