Paparan radiasi ultraviolet memicu kerusakan kulit sehingga tabir surya berspektrum luas berbasis
kombinasi filter UV organik, seperti Diethylamino Hydroxybenzoyl Hexyl Benzoate (DHHB) dan
Ethylhexyl Triazone (EHT), menjadi kebutuhan penting. Namun keterbatasan kelarutan kedua filter
padat ini menghambat formulasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi model
prediksi kelarutan DHHB dan EHT berbasis machine learning menggunakan KNIME,
mengembangkan metode HPLC tervalidasi untuk penetapan kadar keduanya, serta mengukur
kelarutan aktualnya dalam octisalate, diethylhexyl adipate (DEHA), dan C13-15 alkana. Model
dilatih menggunakan deskriptor kemoinformatika dan Relative Energy Difference berbasis Hansen
Solubility Parameter. Model terbaik adalah Random Forest untuk DHHB (RMSE 0,07; R² 0,567) dan
Linear Regression untuk EHT (RMSE 0,043; R² 0,446), dengan alkohol dan hidrokarbon murni
teridentifikasi sebagai outlier di luar applicability domain. Metode HPLC gradien dengan fase gerak
metanol–asam format 0,1% memisahkan kedua analit dan memenuhi seluruh parameter validasi
(perolehan kembali 93–105%, RSD < 4%, r² ? 0,99). Secara eksperimental, DHHB lebih larut dalam
octisalate yang aromatik sedangkan EHT lebih larut dalam DEHA yang alifatik. Dalam sistem
campuran, kehadiran DHHB meningkatkan kelarutan EHT melalui kosolvensi molekuler, sementara
persaingan solvasi menurunkan kelarutan DHHB.
Perpustakaan Digital ITB