Stres merupakan reaksi fisik dan emosional terhadap perubahan lingkungan yang
mengharuskan seseorang untuk beradaptasi. Berdasarkan data survei I-NAMHS
(2022), satu dari dua puluh remaja di Indonesia mengidap gangguan mental, yang
seringkali diperburuk oleh fakta bahwa banyak orang tidak menyadari mereka
sedang mengalami stres negatif dan membiarkannya berlarut-larut. Oleh karena itu,
terdapat urgensi untuk menciptakan sebuah instrumen skrining dini berupa
wearable device yang dapat mendeteksi keberadaan stres akut agar tidak
menumpuk. Sistem ini menggunakan pendekatan biomarker fisiologis dengan
mengakuisisi dua data utama, yakni ekstraksi Heart Rate Variability (HRV) melalui
pengolahan sinyal dari sensor fotopletismografi (PPG DFRobot SEN0203 dan
pemantauan pergerakan tubuh menggunakan akselerometer 3-aksis MPU6050.
Pengolahan data dilakukan secara sinkron dan real-time di dalam mikrokontroler
(ESP32) memanfaatkan machine learning (Edge AI/TinyML) dengan arsitektur
Multilayer Perceptron (MLP) yang sangat ringan (lightweight). Algoritma dilatih
menggunakan dataset WISDM yang dikurasi menjadi dua kategori (aktivitas
berintensitas tinggi dan rendah) dan diproses melalui segmentasi sliding window
serta Robust Scaler. Keputusan prediksi jenis stres kemudian diambil menggunakan
logika fusi data sensor. Dari hasil pengujian perangkat keras, sensor PPG terbukti
memiliki tingkat ketepatan akuisisi sinyal yang tinggi, dengan pencapaian nilai
Pearson Correlation tertinggi sebesar 0.96 dan nilai Mean Absolute Error (MAE)
terbaik mencapai 14.547 milidetik. Pada evaluasi perangkat lunak cerdas,
reklasifikasi kelompok dataset aktivitas menjadi dua kelas berhasil meningkatkan
akurasi dari model machine learning secara signifikan, dari 85.34% menjadi
98.29%. Secara keseluruhan, wearable device yang dirancang telah terbukti mampu
berfungsi dengan baik untuk mendeteksi serta memantau jenis stres akut yang
dialami pengguna secara real-time.
Perpustakaan Digital ITB