digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sektor kehutanan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Indonesia menargetkan net sink 140 juta ton CO?e pada 2030 melalui strategi FOLU Net Sink 2030 (KLHK, 2022). BKPH Manglayang Barat memiliki potensi implementasi perdagangan karbon, didukung oleh pendapatan yang didominasi hasil hutan bukan kayu dan ekowisata. Namun, proyek konservasi yang hanya menghitung karbon memiliki keterbatasan. Co-benefits yang mencakup layanan ekosistem, kesejahteraan sosial, dan pembangunan berkelanjutan dapat menjadi solusi lengkap dalam perdagangan karbon. Penelitian ini menganalisis kondisi perubahan karbon, profil co-benefits (biodiversitas, hidrologi, sosial-ekonomi), zonasi prioritas implementasi, dan proyeksi pendapatan dari penjualan kredit karbon di BKPH Manglayang Barat. Analisis karbon menggunakan Framework Comprehensive Assessment dan Land Use Land Cover approach. Co-benefits dianalisis melalui species richness (biodiversitas), Annual Water Yield (hidrologi), dan luas-kepadatan penduduk desa (sosial-ekonomi). Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) membobotkan ketiga co-benefits untuk integrasi dengan zonasi prioritas karbon. Proyeksi pendapatan dihitung dari kredit karbon dengan berbagai skenario harga. Hasil menunjukkan perubahan karbon BKPH Manglayang Barat stabil dengan laju sekuestrasi 0,75 tC/ha/tahun dan total kredit karbon 2.305-11.110 tCO?/tahun. Berdasarkan distribusi species richness, kawasan ini direkomendasikan menjadi empat zona pengelolaan, yaitu Zona Konservasi Prioritas I, Zona Konservasi Prioritas II, Zona Restorasi, dan Zona Investigasi. Zonasi ini bertujuan untuk mengarahkan perlindungan ketat, pemanfaatan terbatas, upaya pemulihan habitat, serta kebutuhan studi lanjutan. Dari jasa hidrologi, BKPH Manglayang Barat menghasilkan aliran air tahunan rata-rata 126,81 mm/tahun atau 5,24 juta m3/tahun yang berperan dalam stabilitas aliran, pengendalian banjir, dan ketersediaan air musim kering. Berdasarkan variasi kategori aliran air, kawasan ini dibagi menjadi Zona Konservasi, Zona Pemanfaatan Berkelanjutan, dan Zona Restorasi. Ketiga zona tersebut mengarahkan strategi perlindungan, pemanfaatan, dan pemulihan aliran serta fungsi hidrologi jangka panjang. Integrasi data persentase luas desa dalam BKPH Manglayang Barat dan kepadatan penduduk menghasilkan skor prioritas sosial-ekonomi yang menggambarkan tingkat ketergantungan dan tekanan potensial masyarakat terhadap kawasan BKPH. Dari 19 desa terdapat lima desa yang memiliki luas dalam BKPH yang signifikan dan kepadatan penduduk tinggi, sedangkan yang lainnya termasuk kategori sedang dan rendah. Masing-masing kategori diarahkan pada strategi pengelolaan yang berbeda, mulai dari pemberdayaan ekonomi, penguatan kesadaran, sampai monitoring lingkungan. Skema implementasi perdagangan karbon dibagi ke dalam empat zona prioritas yang membedakan fokus intervensi, mulai dari perlindungan kawasan dengan stok karbon tinggi, peningkatan stok melalui restorasi dan agroforestri, pengembangan zona riset dan pilot metodologi, hingga penguatan kapasitas sosial masyarakat. Proyeksi pendapatan karbon dasar mencapai Rp207.360.000-Rp999.900.000/tahun, sementara itu dengan co-benefits mencapai Rp10.824.870-Rp1.559.309.400/tahun.