digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Nur Ainiyah Dini Rizky
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Permukiman adat di kawasan peri-urban menghadapi tekanan transformasi yang berasal dari urbanisasi, perkembangan ekonomi, dan migrasi penduduk. Tekanan tersebut dapat menggeser bentuk fisik, struktur sosial, serta nilai-nilai adat yang menjadi identitas permukiman. Kampung Mahmud, yang berada di Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, merupakan salah satu permukiman adat di kawasan peri-urban yang mengalami perubahan signifikan, terutama setelah dibangunnya jembatan utama pada tahun 2007 dan penetapan kampung sebagai bagian dari desa wisata religi. Berbeda dengan kajian permukiman adat yang umumnya berfokus pada kampung dengan lembaga adat formal seperti Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Naga, atau Kampung Baduy, Kampung Mahmud memiliki karakter khas berupa ketiadaan aturan adat tertulis maupun lembaga adat formal, kepemimpinan adat yang berbasis keturunan langsung dari pendiri kampung, serta identitas yang berbasis pada nilai spiritual keagamaan. Karakter khas ini menempatkan Kampung Mahmud sebagai kasus yang menarik untuk memahami bagaimana keberlanjutan permukiman adat dapat dijaga tanpa mengandalkan lembaga adat formal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan permukiman yang terjadi di Kampung Mahmud beserta faktor pendorongnya, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan kampung sebagai permukiman adat, serta menganalisis peran kapasitas lokal dalam menjaga keberlanjutan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, dokumentasi visual, pemetaan sederhana, wawancara mendalam, serta kuesioner pendukung yang datanya diinterpretasikan secara kualitatif dan secara kuantitatif dengan distribusi sederhana. Sampel penelitian mencakup 45 unit hunian yang terbagi atas tiga kategori, yaitu hunian vernakular dan semi-vernakular, hunian transisi, dan hunian non-vernakular, masing-masing 15 unit, serta 10 informan kunci yang dipilih secara purposive. Kerangka teoretis yang digunakan terdiri atas teori Ekistics (Doxiadis, 1970) untuk membaca lima unsur pembentuk permukiman, teori transformasi lingkungan binaan (Habraken, 1998) untuk membaca perubahan hunian, konsep kapasitas lokal (UNDP, 2009; Epps, 2002) dan pendekatan SARC (Sashkova, 2024) untuk membaca peran masyarakat, serta indikator keberlanjutan permukiman adat (Scott, 1998) untuk menilai tingkat keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan permukiman Kampung Mahmud terjadi pada seluruh unsur Ekistics dengan kecepatan paling tinggi pada periode setelah tahun 2007. Pada unsur alam, sawah hampir hilang, kebun menyusut, dan buruan imah berkurang drastis. Pada unsur manusia, terjadi pergeseran komposisi penduduk dan menurunnya minat generasi muda terhadap praktik adat. Pada unsur masyarakat, kepemimpinan adat tetap dipegang oleh sesepuh, sedangkan struktur formal dipegang oleh RT dan RW. Pada unsur cangkang, mayoritas hunian sudah mengalami transformasi parsial menuju non-vernakular. Pada unsur jaringan, terjadi penguatan jaringan wisata religi dan pelemahan jaringan pengetahuan tradisional. Berdasarkan lima indikator keberlanjutan Scott (1998), penilaian dilakukan secara mandiri untuk setiap indikator dan menunjukkan bahwa satu indikator masih terjaga, yaitu keberagaman fungsi dan struktur, sementara empat indikator lainnya mengalami pelemahan pada aspek-aspek tertentu, yaitu keberlanjutan pada dimensi lingkungan alam, ketahanan sosial-budaya pada regenerasi pengetahuan kepada generasi muda, kemampuan inovasi bertahap pada tradisi pembangunan dengan material lokal, serta jaringan sosial dan lembaga lokal pada praktik pembangunan hunian meskipun kegiatan keagamaan kolektif masih berjalan. Pemetaan peran kapasitas lokal ke dalam lima elemen pembentuk permukiman menunjukkan bahwa kapasitas lokal bekerja secara utuh hanya pada elemen jaringan, sedangkan pada empat elemen lainnya, yaitu alam, manusia, masyarakat, dan cangkang, kapasitas lokal bekerja terbatas pada aspek-aspek tertentu, dan keberlangsungan kampung sebagai permukiman adat sangat bergantung pada berlanjutnya jaringan pengetahuan informal dan jaringan wisata religi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan permukiman adat di kawasan peri-urban tidak bergantung pada bentuk fisik yang dipertahankan secara kaku, melainkan pada kapasitas lokal masyarakat yang bekerja sesuai jenis ruang yang berubah. Kapasitas lokal tersebut tidak harus hadir dalam bentuk lembaga adat formal, melainkan dapat berupa peran simbolik tetua adat, kesadaran masing-masing penghuni, dan musyawarah bersama dalam pengelolaan ruang umum. Namun, kemampuan beradaptasi ini memiliki batasan ketika tekanan datang dari luar sistem kampung, sehingga memerlukan dukungan eksternal. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga temuan, yaitu kapasitas lokal dapat berjalan tanpa lembaga adat formal, kapasitas lokal bekerja secara selektif sesuai jenis ruang, serta pemetaan peran kapasitas lokal ke dalam lima elemen Ekistics. Hasil penelitian ini menjadi rujukan bahwa permukiman adat di Indonesia tidak harus selalu memiliki aturan adat tertulis atau lembaga adat formal, sehingga pendekatan pelestarian dan kebijakan dapat lebih sesuai dengan karakter masing-masing permukiman.