digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Rendy Raka Pramudya [27024007]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Penciptaan karya seni ini beranjak dari pergeseran paradigma seniman dalam memaknai “ruang asing”. Jika sebelumnya pencarian visual berfokus pada hal-hal imajiner yang bersifat horizontal-duniawi, kini fokus tersebut bergeser menuju dimensi vertikal-kedalaman batin (depth). Penelitian berbasis praktik ini bersandar pada tiga pilar teoretis utama: fenomenologi persepsi dari Merleau-Ponty (konsep pertautan/chiasm), material engagement dari Tim Ingold (konsep pengembaraan/wayfaring), dan process art yang melihat karya sebagai akumulasi rekaman jejak (palimpsest). Dalam metodologinya, saya secara sadar menanggalkan ego rasional dan kendali penuhnya dalam berkarya. Saya menghamparkan kanvas berskala masif (200 x 1600 cm) di permukaan lantai, lalu secara fisik melangkah masuk untuk berdialog langsung dengan material. Metode penciptaan ini mengeksplorasi teknik penumpukan lapisan (layering), melalui siklus konstruksi dan destruksi secara terus-menerus. Penggunaan alat nonkonvensional seperti squeegee raksasa, kape, dan sikat besi dibiarkan bergesekan dengan gelombang alami permukaan kanvas. Selain itu, seniman juga mengintervensi karya dengan menempelkan kertas krep transparan yang kemudian dibongkar secara paksa menggunakan untaian tali rami, menyingkap kembali tekstur dan temuan di balik lapisan tersebut. Hasil dari pertautan antara subjek dan material ini mewujud dalam lukisan berjudul “Kembara Alam Mataya”. Karya ini tidak dipresentasikan sebagai objek dua dimensi yang datar, melainkan dibentangkan secara melengkung untuk merespons sudut ruang pamer. Strategi presentasi ini mengadopsi gagasan “kehadiran” (presence), menciptakan sebuah “lingkungan” karya yang secara aktif mendominasi pandangan periferal. Sebagai kesimpulan, praktik berkarya ini berhasil memicu kesadaran akan pengalaman transenden (eternal now). Bagi seniman, transendensi termanifestasikan saat proses pertautan (chiasm) di atas hamparan kanvas berlangsung. Sementara itu, bagi audiens, kualitas tersebut terwujud melalui rekaman visual yang memeluk dan menarik mereka untuk ikut masuk ke dalam kedalaman (depth) palimpsest karya.