Penciptaan karya seni ini beranjak dari pergeseran paradigma seniman dalam
memaknai “ruang asing”. Jika sebelumnya pencarian visual berfokus pada hal-hal
imajiner yang bersifat horizontal-duniawi, kini fokus tersebut bergeser menuju
dimensi vertikal-kedalaman batin (depth). Penelitian berbasis praktik ini bersandar
pada tiga pilar teoretis utama: fenomenologi persepsi dari Merleau-Ponty (konsep
pertautan/chiasm), material engagement dari Tim Ingold (konsep
pengembaraan/wayfaring), dan process art yang melihat karya sebagai akumulasi
rekaman jejak (palimpsest). Dalam metodologinya, saya secara sadar
menanggalkan ego rasional dan kendali penuhnya dalam berkarya. Saya
menghamparkan kanvas berskala masif (200 x 1600 cm) di permukaan lantai, lalu
secara fisik melangkah masuk untuk berdialog langsung dengan material. Metode
penciptaan ini mengeksplorasi teknik penumpukan lapisan (layering), melalui
siklus konstruksi dan destruksi secara terus-menerus. Penggunaan alat nonkonvensional seperti squeegee raksasa, kape, dan sikat besi dibiarkan bergesekan
dengan gelombang alami permukaan kanvas. Selain itu, seniman juga
mengintervensi karya dengan menempelkan kertas krep transparan yang kemudian
dibongkar secara paksa menggunakan untaian tali rami, menyingkap kembali
tekstur dan temuan di balik lapisan tersebut. Hasil dari pertautan antara subjek dan
material ini mewujud dalam lukisan berjudul “Kembara Alam Mataya”. Karya ini
tidak dipresentasikan sebagai objek dua dimensi yang datar, melainkan
dibentangkan secara melengkung untuk merespons sudut ruang pamer. Strategi
presentasi ini mengadopsi gagasan “kehadiran” (presence), menciptakan sebuah
“lingkungan” karya yang secara aktif mendominasi pandangan periferal. Sebagai
kesimpulan, praktik berkarya ini berhasil memicu kesadaran akan pengalaman
transenden (eternal now). Bagi seniman, transendensi termanifestasikan saat proses
pertautan (chiasm) di atas hamparan kanvas berlangsung. Sementara itu, bagi
audiens, kualitas tersebut terwujud melalui rekaman visual yang memeluk dan
menarik mereka untuk ikut masuk ke dalam kedalaman (depth) palimpsest karya.
Perpustakaan Digital ITB