ABSTRAK Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Yohana P. Indrasmoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Perubahan dinamika kota kontemporer menunjukkan bahwa ruang komersial tidak
lagi berkembang semata berdasarkan faktor fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh
persepsi, pengalaman, dan representasi digital pengguna. Kawasan Blok M sebagai
kawasan komersial strategis mengalami transformasi menuju ekonomi kreatif
berbasis digital, sehingga penting memahami integrasi elemen spasial dan sosialsubjektif dalam membentuk konsumsi ruang. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi keterkaitan antara persepsi ruang digital dengan konsumsi ruang
komersial di kawasan Blok M. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada elemen
spasial, persepsi terkonsentrasi pada koridor utama seperti Melawai dan Blok M
Square, dengan aksesibilitas tinggi di sekitar simpul MRT, aglomerasi aktivitas
pada titik seperti Taman Literasi, serta distribusi parkir yang mengikuti lokasi
konsumsi. Sementara itu, pada elemen sosial-subjektif, persepsi terbentuk melalui
viralitas media sosial, identitas simbolik tempat, ragam aktivitas, kualitas
pengalaman, dan estetika visual ruang. Permodelan GWR menunjukkan bahwa
parkir, kualitas pengalaman, dan estetika berpengaruh signifikan terhadap jumlah
ulasan sebagai representasi konsumsi ruang. Temuan ini menyatakan bahwa baik
elemen spasial maupun sosial-subjektif tetap memiliki keterkaitan, namun dengan
karakter yang berbeda, di mana elemen spasial cenderung berpengaruh langsung
dan konsisten, sedangkan elemen sosial-subjektif bersifat lebih kontekstual,
selektif, dan tidak selalu linear. Meskipun demikian, seluruh elemen tetap memiliki
keterkaitan secara konseptual terhadap konsumsi ruang komersial, di mana persepsi
digital terbentuk secara luas tetapi hanya sebagian yang terkonversi menjadi
perilaku konsumsi yang terukur secara empiris. Kebaruan penelitian ini terletak
pada integrasi analisis persepsi digital berbasis TF-IDF dengan pendekatan spasial
dan statistik, serta pengukuran berbasis unit ruang komersial untuk
mengidentifikasi keterkaitan empiris antara subjektivitas digital dan konsumsi
ruang. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan geografi konsumsi dengan
mengintegrasikan dimensi spasial, sosial-subjektif, dan data digital dalam
memahami dinamika ruang komersial perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB