digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Easter Debora
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Kebijakan industrialisasi perdesaan turut berperan dalam mengubah Kabupaten Majalengka dari wilayah agraris menuju kawasan industri. Industrialisasi yang diharapkan mampu mengurangi ketimpangan wilayah juga menimbulkan berbagai perubahan yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap pembangunan wilayah, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tipologi persepsi masyarakat terhadap pembangunan wilayah, isu utama transformasi sosio-ekonomi, serta menganalisis peran JaF dalam pengembangan wilayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan Q Method sebagai metode utama dan menggunakan 33 Q statements yang disusun berdasarkan kajian pustaka dan wawancara pendahuluan. Kemudian dilakukan Q sorting oleh 16 responden dari Kecamatan Jatiwangi, Kertajati, Kasokandel, Sumberjaya, Dawuhan, dan Ligung. Hasil Q sorting dianalisis menggunakan aplikasi KADE, diperdalam melalui wawancara, kemudian ditriangulasikan dengan wawancara mendalam mengenai peran JaF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat tidak terbagi secara tegas menjadi kelompok yang menerima atau menolak industrialisasi, tetapi membentuk tiga tipologi persepsi dengan orientasi yang berbeda. Sintesis hasil Q Method dan wawancara menghasilkan empat isu utama, yaitu perubahan makna pertanian dan regenerasi petani, dinamika ketenagakerjaan dan perubahan sosial, kekhawatiran terhadap perubahan lingkungan, serta keberlanjutan identitas lokal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa JaF berperan sebagai aktor lokal yang membangun ruang dialog, memperluas jejaring, dan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendekatan seni dan budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembangunan kawasan industri perlu memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, identitas lokal, dan partisipasi masyarakat agar transformasi wilayah berlangsung secara lebih inklusif.