Kebijakan industrialisasi perdesaan turut berperan dalam mengubah Kabupaten
Majalengka dari wilayah agraris menuju kawasan industri. Industrialisasi yang
diharapkan mampu mengurangi ketimpangan wilayah juga menimbulkan berbagai
perubahan yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap pembangunan
wilayah, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri. Penelitian
ini bertujuan mengidentifikasi tipologi persepsi masyarakat terhadap pembangunan
wilayah, isu utama transformasi sosio-ekonomi, serta menganalisis peran JaF dalam
pengembangan wilayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods
dengan Q Method sebagai metode utama dan menggunakan 33 Q statements yang
disusun berdasarkan kajian pustaka dan wawancara pendahuluan. Kemudian
dilakukan Q sorting oleh 16 responden dari Kecamatan Jatiwangi, Kertajati,
Kasokandel, Sumberjaya, Dawuhan, dan Ligung. Hasil Q sorting dianalisis
menggunakan aplikasi KADE, diperdalam melalui wawancara, kemudian
ditriangulasikan dengan wawancara mendalam mengenai peran JaF.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat tidak terbagi secara tegas menjadi
kelompok yang menerima atau menolak industrialisasi, tetapi membentuk tiga
tipologi persepsi dengan orientasi yang berbeda. Sintesis hasil Q Method dan
wawancara menghasilkan empat isu utama, yaitu perubahan makna pertanian dan
regenerasi petani, dinamika ketenagakerjaan dan perubahan sosial, kekhawatiran
terhadap perubahan lingkungan, serta keberlanjutan identitas lokal. Penelitian ini
juga menunjukkan bahwa JaF berperan sebagai aktor lokal yang membangun ruang
dialog, memperluas jejaring, dan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui
pendekatan seni dan budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembangunan
kawasan industri perlu memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan
ekonomi, keberlanjutan lingkungan, identitas lokal, dan partisipasi masyarakat agar
transformasi wilayah berlangsung secara lebih inklusif.
Perpustakaan Digital ITB