Perkembangan branding berbasis karakter yang terjadi saat ini mendorong
semakin banyak perusahaan untuk memanfaatkan karakter bukan hanya sebagai
elemen visual, melainkan juga sebagai aset strategis yang dapat dimanfaatkan
untuk membangun identitas merek, menciptakan keterikatan emosional, dan
memberikan pengalaman yang bermakna bagi konsumen. Kenyataannya,
penelitian terdahulu yang membahas terkait bagaimana konsumen memersepsikan
branding berbasis karakter serta bagaimana persepsi tersebut memberikan
kontribus terhadap pembentukan makna dari merek berbasis karakter masih relatif
terbatas, utamanya dalam konteks merek lokal yang sedang berada di tahap awal
pengembangan. Penelitian yang sudah ada lebih banyak membahas soal desain
karakter, lisensi, hak kekayaan intelektual, serta komunikasi pemasaran, padahal
saat ini terjadi peningkatan pada penerapan branding berbasis karakter. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi terhadap persepsi
konsumer mengenai branding berbasis karakter. Di sisi lain juga memahami
bagaimana persepsi tersebut kemudian berperan dalam pembentukan makna
merek, dan kemudian merumuskan rekomendasi strategi branding untuk Anu, suatu
merek pernak-pernik gaya hidup dengan karakter berbasis Jakarta. Merek ini
sedang dikembangkan dengan tujuan untuk merepresentasikan sudut pandang dan
pengalaman wisatawan dan perantau yang ada di Jakarta.
Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi persepsi dan
interpretasi konsumen terhadap branding berbasis karakter secara umum
berdasarkan pengalaman mereka terhadap merek dan produk berbasis karakter
internasional dan Indonesia yang sudah ada, serta untuk memahami bagaimana
persepsi ini berkontribusi pada pembentukan makna merek. Wawasan tersebut
kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi bagi terciptanya identitas
merek Anu, kepribadian karakter, cerita, dan konsep produk. Anu adalah proyek
pengembangan merek gaya hidup berbasis di Jakarta yang mencakup barang
barang berbasis karakter dan masih dalam tahap konseptual awal. Inisiatif ini
dirancang untuk mencerminkan sudut pandang dan pengalaman wisatawan dan
pelancong di Jakarta.
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif eksploratif,
didukung oleh metode wawancara semi-terstruktur sebagai alat utama untuk
mengumpulkan data. Penelitian ini melibatkan sepuluh orang partisipan
iii
wawancara yang telah dipilih untuk mewakili kelompok target pasar utama dari
Anu; individu usia dewasa muda yang dalam kesehariannya beraktivitas di Jakarta
dan memiliki pengalaman berinteraksi dengan merek berbasis karakter. Seluruh
hasil dari wawancara ditranskripkan secara verbatim untuk kemudian diolah
dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul terkait
persepsi dan interpretasi konsumen. Selanjutnya, hasil dari proses analisis tematik
diinterpretasikan dengan kerangka Customer-Based Brand Equity (CBBE) yang
dicetuskan oleh Keller. Penggunaan kerangka ini bertujuan untuk memahami
bagaimana integrasi antara temuan empiris dengan proses pembentukan ekuitas
merek berbasis konsumen. Untuk mendukung penelitian ini, dilakukuan juga satu
sesi wawancara dengan pendiri merek Anu guna mendapatkan informasi terkait
konteks organisasi yang berguna bagi pembentukan rekomendasi manajerial serta
rencana implementasi, tanpa mengubah atau memengaruhi proses analisis tematik
yang dilakukan terhadap data konsumen.
Ditemukan lima tema utama dari hasil penelitian yang menjelaskan bagaimana
konsumen membentuk persepsi dan menilai branding berbasis karakter. Kelimanya
adalah motivasi pembelian dan nilai pengalaman, preferensi visual dan estetika,
proses pemahaman karakter dan pembentukan makna, hubungan emosional dan
identitas, serta evaluasi merek dan elemen pembentuk merek. Temuan yang ada
menyebutkan bahwa konsumen tidak hanya menilai merek berbasis karakter dari
daya tarik visualnya, tetapi juga mereka secara aktif menginterpretasikan identitas
karakter melalui berbagai elemen, seperti visual, narasi, konteks, kepribadian,
relevansi emosional, dan asosiasi secara simbolik, sebelum akhirnya membangun
keterikatan yang memiliki makna dengan merek tersebut. Sebagai tambahan,
penilaian keberhasilan suatu merek berbasis karakter juga dinilai konsumen dari
aspek identitas merek, orisinalitas, konsitensi narasi, komunikasi dan kolaborasi,
serta ada atau tidaknya peluang keterlibatan jangka panjang.
Penelitian menggunakan kerangka Customer-Based Brand Equity (CBBE) sebagai
lensa interpretasi temuan, dimana metode ini menunjukkan bahwa sebagian besar
hasil penelitian berada pada level Brand Meaning, utamanya dimensi Brand
Imagery. Meskipun begitu, ditemukan juga indikasi terhadap ketiga level lain;
Brand Identity, Brand Response, dan Brand Resonance, meskipun intensitasnya
lebih rendah jika dibandingkan dengan level Brand Meaning. Temuan ini
mengindikasikan bahwa keberhasilan branding berbasis karakter utamanya
dibangun melalui proses dimana konsumen membentuk makna simbolis terhadap
karakter yang didukung oleh konsistensi identitas visual, narasi yang kuat,
relevansi kepribadian karakter, dan komunikasi berkelanjutan yang dilakukan
merek.
Mengacu pada hasil temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan rekomendasi
strategi branding untuk Anu, dengan fokus pada penguatan identitas merek,
pengembangan narasi karakter yang konsisten, pembentukan kepribadian merek
yang relevan, optimalisasi komunikasi berbasis penceritaan, integrasi dengan
komunitas, serta kolaborasi strategis. Rekomendasi yang disusun dilengkapi
dengan rencana implementasi bertahap yang disesuaikan dengan kondisi terkini
dari organisasi dan kesiapan bisnis Anu. Jika dilihat secara teoritis, penelitian ini
menunjukkan bagaimana analisis tematik dapat diintegrasikan dengan kerangka
Customer-Based Brand Equity (CBBE) milik Keller, yang berperan sebagai lensa
interpretatif dalam proses pemahaman persepsi konsumen dan pembentukan
makna merek dalam konteks branding berbasis karakter. Dari sudut pandang
manajerial, penelitian ini memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang
berbasis konsumen, meminimalisasi ketidakpastian pada tahap awal
pengembangan merek, serta memberikan panduan praktis bagi Anu maupun merek
berbasis karakter lainnya dalam membangun hubungan yang bermakna dan
berkelanjutan dengan konsumen.
Perpustakaan Digital ITB