ABSTRAK Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Farid Ramadhani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Perkembangan kawasan perkotaan di Provinsi DKI Jakarta telah menyebabkan
tekanan ekologis yang signifikan, ditandai dengan dominasi lahan terbangun dan
keterbatasan ruang terbuka hijau yang berdampak pada fragmentasi habitat serta
menurunnya konektivitas ekologis. Kondisi ini berimplikasi pada terganggunya
pergerakan spesies dan kualitas ekosistem perkotaan. Burung perkotaan sebagai
bioindikator dapat merepresentasikan kondisi tersebut, sementara koridor DAS
Ciliwung memiliki potensi sebagai ecological backbone yang belum optimal
dimanfaatkan dalam perencanaan berbasis ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kesesuaian habitat burung perkotaan dan menganalisis
konektivitas ekologis sebagai dasar perumusan koridor ekologis berbasis NatureBased Solutions (NbS) di koridor DAS Ciliwung, DKI Jakarta. Pendekatan yang
digunakan adalah pemodelan spasial dengan metode Maximum Entropy (MaxEnt),
analisis fragmentasi habitat, serta konektivitas ekologis menggunakan Least-Cost
Path (LCP), dengan data 131 titik kemunculan lima spesies dan variabel lingkungan
utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki akurasi baik hingga
sangat baik (AUC 0,899-0,950). Tutupan lahan (LULC) menjadi faktor dominan
(50-90,5%), diikuti intensitas kawasan terbangun (>30%), yang menegaskan bahwa
struktur lanskap dan tekanan urbanisasi menentukan kesesuaian habitat. Secara
spasial, habitat potensial terkonsentrasi pada koridor riparian dan area vegetasi
tinggi, namun terfragmentasi menjadi patch kecil (threshold 0,102-0,247) dengan
core habitat terbatas. Jalur konektivitas cenderung mengikuti koridor Sungai
Ciliwung dan area resistansi rendah sebagai stepping-stone, sementara kawasan
terbangun menghambat pergerakan spesies. Kondisi ini menunjukkan bahwa
permasalahan utama bukan hanya kehilangan habitat, tetapi keterputusan struktur
ekologis dalam lanskap perkotaan. Berdasarkan hasil tersebut, dirumuskan koridor
ekologis berbasis NbS melalui penguatan vegetasi riparian, optimalisasi ruang
terbuka hijau sebagai jaringan habitat, serta integrasi elemen hijau pada kawasan
terbangun untuk meningkatkan permeabilitas lanskap. Penelitian ini memberikan
dasar spasial dalam perumusan koridor ekologis yang adaptif dan berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB