Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina merupakan kawasan pelestarian alam di Provinsi Riau yang memiliki potensi ekologis tinggi sekaligus menghadapi tekanan berupa penebangan liar, keberadaan perkebunan kelapa sawit di dalam kawasan konservasi, kebakaran hutan, serta degradasi habitat akibat aktivitas manusia. Di sisi lain, kawasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata berbasis konservasi karena didukung oleh keberadaan hutan dataran rendah, danau oxbow, serta keanekaragaman flora dan fauna. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menyusun perencanaan lanskap berkelanjutan yang mampu mengintegrasikan fungsi konservasi, restorasi ekosistem, dan pengembangan wisata alam tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan.
Penelitian ini menggunakan Metode Kerangka Kerja Perencanaan Ekologi Lanskap Berkelanjutan yang dikembangkan oleh Ahern (1999; 2005), melalui analisis aspek abiotik, biotik, dan kultural, identifikasi kompatibilitas spasial, penyusunan strategi pengelolaan, pengembangan skenario, evaluasi, serta penyusunan rencana lanskap adaptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan masih didominasi vegetasi hutan alami, namun memerlukan upaya restorasi pada area yang terdegradasi. Perencanaan menghasilkan empat strategi pengelolaan, yaitu protective, defensive, offensive, dan opportunistic, yang diterapkan dalam konsep zonasi meliputi Zona Perlindungan Hutan, Zona Pelestarian Gajah, Zona Wisata Seni dan Atraktif, serta Zona Wisata Air dan Edukasi Konservasi. Rencana yang dihasilkan mampu mempertahankan struktur lanskap, meningkatkan konektivitas habitat, serta mendukung pengembangan ekowisata secara berkelanjutan sehingga konservasi dan pemanfaatan kawasan dapat berjalan secara seimbang.
Perpustakaan Digital ITB