Pembangunan rumah susun merupakan salah satu strategi pemerintah Indonesia dalam memenuhi kebutuhan hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan. Namun demikian, perancangan lanskap pada kawasan rumah susun umumnya masih berorientasi pada penyediaan ruang terbuka sebagai elemen pelengkap bangunan sehingga belum mampu mengintegrasikan fungsi ekologis, sosial, dan pengelolaan sumber daya secara optimal. Di sisi lain, meningkatnya tekanan urbanisasi, perubahan iklim, dan berbagai permasalahan lingkungan perkotaan menuntut pendekatan perancangan yang tidak hanya mempertahankan kondisi lingkungan, tetapi juga mampu memulihkan dan memperkuat sistem sosial-ekologis. Pendekatan lanskap regeneratif menawarkan paradigma tersebut dengan memandang lanskap sebagai suatu sistem hidup yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi perancangan lanskap regeneratif yang dapat diterapkan pada kawasan rumah susun masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan studi kasus Rumah Susun Rancacili, Kota Bandung. Penelitian diawali dengan kajian teori dan studi preseden, dilanjutkan observasi lapangan, Survey Pendahuluan, serta Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali kebutuhan, permasalahan, dan potensi pengembangan lanskap berdasarkan perspektif penghuni. Hasil sintesis temuan penelitian selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan strategi perancangan yang disempurnakan melalui masukan dari ahli arsitektur lanskap sehingga strategi yang dihasilkan mempertimbangkan kebutuhan penghuni sekaligus aspek konseptual dan penerapannya dalam praktik perancangan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksploratif-deskriptif yang mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Kondisi eksisting kawasan dianalisis menggunakan pendekatan analisis tapak yang mengacu pada LaGro (2013), sedangkan data Survey Pendahuluan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data hasil FGD dianalisis menggunakan dua pendekatan yang saling melengkapi, yaitu Open Coding dan Semantic Analysis berbantuan perangkat lunak JMP melalui fitur Text Explorer. Open Coding digunakan untuk mengidentifikasi tema berdasarkan interpretasi terhadap makna setiap pernyataan peserta, sedangkan Semantic Analysis digunakan untuk mengidentifikasi tema dominan berdasarkan frekuensi kemunculan kata (top terms), hubungan antarkata, dan pembentukan klaster. Hasil kedua pendekatan tersebut kemudian diintegrasikan dan disintesis untuk menghasilkan tema-tema utama yang menjadi dasar dalam perumusan strategi perancangan lanskap regeneratif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap Rumah Susun Rancacili masih menghadapi berbagai permasalahan ekologis, sosial, dan fungsional, seperti pengelolaan sampah yang belum optimal, keterbatasan ruang komunal, rendahnya kualitas sistem pengelolaan air, belum optimalnya pemanfaatan ruang produktif, serta perlunya peningkatan aspek keamanan dan kenyamanan ruang luar. Integrasi hasil Open Coding dan Semantic Analysis menghasilkan lima tema utama yang merepresentasikan kebutuhan lanskap penghuni, yaitu (1) lanskap sebagai sistem pengelolaan sampah, (2) lanskap produktif berbasis partisipasi, (3) lanskap sebagai ruang sosial dan aktivitas komunal, (4) lanskap sebagai sistem pengelolaan air kawasan, dan (5) lanskap sebagai ruang yang aman dan tangguh. Kelima tema tersebut selanjutnya menjadi dasar dalam perumusan strategi perancangan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip lanskap regeneratif, hasil studi preseden, referensi dan standar perancangan, serta masukan dari ahli arsitektur lanskap. Strategi yang dihasilkan disusun secara sistematis ke dalam isu, tujuan, kriteria, indikator, dan strategi perancangan, serta dilengkapi dengan landscape notes yang mencakup diagram konsep dan referensi vegetasi sebagai pedoman konseptual penerapannya pada kawasan rumah susun. Strategi tersebut selanjutnya divisualisasikan melalui simulasi masterplan konseptual pada kawasan Rumah Susun Rancacili.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan arsitektur lanskap melalui perumusan strategi perancangan lanskap regeneratif yang disusun secara sistematis berdasarkan hasil sintesis temuan penelitian dari Focus Group Discussion (FGD), yang didukung oleh hasil analisis tapak dan survey pendahuluan sebagai informasi kontekstual kawasan. Selain menghasilkan strategi perancangan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa integrasi antara Open Coding dan Semantic Analysis dapat digunakan sebagai pendekatan yang saling melengkapi dalam mengidentifikasi kebutuhan lanskap berdasarkan perspektif pengguna. Integrasi kedua pendekatan menghasilkan dasar yang lebih komprehensif bagi penyusunan strategi perancangan lanskap regeneratif. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi perancang, pengelola, akademisi, maupun pemerintah dalam mengembangkan lanskap rumah susun yang lebih adaptif, partisipatif, produktif, berdaya pulih, serta mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas hidup penghuni.
Perpustakaan Digital ITB