Padang lamun merupakan ekosistem karbon biru yang berperan penting dalam mitigasi
perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon secara
jangka panjang. Namun, kapasitas penyimpanan karbon padang lamun sangat
bervariasi, dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor biogeokimia dan
konektivitas ekosistem pesisir dalam suatu bentang laut (seascape). Konektivitas antar
ekosistem, khususnya antara mangrove dan padang lamun, berpotensi memengaruhi
struktur komunitas lamun serta sumber dan akumulasi karbon di dalam sedimen, tetapi
aspek ini masih jarang dikaji secara komprehensif, terutama di wilayah kepulauan kecil
seperti Pulau Saparua, Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan stok
karbon padang lamun pada tingkat konektivitas ekosistem pesisir yang berbeda, serta
menganalisis keterkaitannya dengan struktur komunitas lamun, kondisi biogeokimia,
dan sumber karbon sedimen. Penelitian dilakukan pada tiga lokasi dengan tingkat
konektivitas ekosistem mangrove dan lamun yang berbeda, yaitu Porto (konektivitas
tinggi dengan mangrove alami), Paperu (konektivitas tinggi disertai tekanan
antropogenik tinggi), dan Iha (konektivitas rendah dengan mangrove). Struktur
komunitas lamun dianalisis menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT),
sedangkan biomassa atas dan bawah tanah serta sedimen diambil untuk analisis stok
karbon menggunakan metode Loss on Ignition (LOI). Sumber karbon sedimen
ditelusuri melalui analisis isotop stabil ?¹³C. Seluruh parameter dianalisis secara
komparatif dan diuji keterkaitannya melalui analisis deskriptif dan korelasional. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tingkat konektivitas ekosistem pesisir
tercermin secara nyata dalam variasi struktur komunitas lamun, stok karbon, dan
karakter sumber karbon sedimen. Tujuh spesies lamun teridentifikasi di Pulau Saparua,
yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Syringodium
isoetifolium, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, dan Halodule pinifolia, dengan
keanekaragaman tertinggi ditemukan di lokasi yang terkoneksi dengan mangrove
alami. Lokasi dengan konektivitas tinggi, yang umumnya dicirikan oleh perairan semitertutup,
didominasi oleh spesies berstrategi persisten, sedangkan lokasi dengan
konektivitas rendah dan perairan terbuka didominasi oleh spesies perintis dan
ii
oportunis. Stok karbon total menunjukkan gradien menurun seiring berkurangnya
konektivitas, dengan nilai tertinggi tercatat di Porto (54,47 Mg C ha?¹), diikuti Paperu
(45,93 Mg C ha?¹), dan terendah di Iha (33,91 Mg C ha?¹). Lokasi dengan konektivitas
mangrove–lamun yang tinggi memiliki stok karbon sekitar 1,6 kali lebih besar
dibandingkan lokasi dengan konektivitas mangrove–lamun yang rendah. Perbedaan ini
berkaitan erat dengan kondisi biogeokimia sedimen, yang ditandai oleh dominasi fraksi
sedimen halus pada lokasi yang berdekatan dengan mangrove. Analisis isotop ?¹³C
mengindikasikan bahwa karbon sedimen pada seluruh lokasi didominasi oleh sumber
autochthonous dari biomassa lamun, dengan variasi kontribusi karbon allochthonous
yang dimodulasi oleh tingkat konektivitas ekosistem dan tekanan antropogenik. Secara
keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa konektivitas ekosistem pesisir
berperan penting dalam meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon biru pada
padang lamun melalui pengaruhnya terhadap struktur komunitas dan dinamika sumber
karbon sedimen. Temuan ini menegaskan bahwa konektivitas ekosistem perlu
dipertimbangkan dalam strategi konservasi dan pengelolaan karbon biru berbasis
bentang laut yang terintegrasi.
Perpustakaan Digital ITB