Akuakultur merupakan salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam
bidang pangan di Indonesia. Udang putih (Litopenaeus vannamei) menjadi salah
satu komoditas budidaya unggulan dengan jumlah ekspor sebesar 892 ribu ton pada
tahun 2023. Namun, komoditas unggulan tersebut memiliki penurunan produksi
ekspor sebesar 13,6%. Penurunan dikarenakan kendala pada tambak di Indonesia
terutama saat fase pendederan, yang mampu meningkatkan produksi udang tahap
pembesaran agar mampu tumbuh secara optimal. Solusi yang dapat dilakukan yaitu
heterotrofik, dan semi-batch. Sistem ZWD merupakan sistem akuakultur tertutup
yang unggul dalam menjaga kualitas air melalui proses microbial loop serta
menjawab permasalahan tambak saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan perbedaan kinerja budidaya, struktur komunitas mikroba air dan
udang, serta komposisi proksimat udang putih antara sistem ZWD, kolam
heterotrofik, dan semi-batch. Ketiga sistem dibandingkan melalui kegiatan
budidaya selama 55 hari dengan tiap sistem dilakukan pengulangan triplo.
Penelitian melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) persiapan konsorsium mikroba
utama; (2) persiapan tangki perlakuan; (3) aklimatisasi udang putih; (4) proses
budidaya. Selama budidaya, diukur kualitas air, parameter biologis, parameter
mikrobiologis, dan pengujian proksimat. Kualitas air mengukur amonium, nitrit,
nitrat, salinitas, Dissolve oxygen (DO), suhu, pH. Parameter biologis melakukan
pengukuran berat dan panjang udang. Parameter mikrobiologis menggunakan
metode total plate count dengan medium Tryptic Soy Agar (TSA) dan Thiosulfate-
Citrate-Bile salt-Sucrose Agar (TCBS) sehingga mendapatkan indeks diversitas
(H') dan indeks dominansi (D). Hasil penelitian menunjukkan sistem ZWD unggul
dalam kinerja sistem dengan rentang nilai kualitas air terkecil, dengan DO (6.239 ±
0.47) dan suhu (29.028 ± 1.23?), juga unggul pada nilai survival rate (60,45 ±
vi
0,228%) dan feed conversion ratio (1,993 ± 0,472). Sementara itu, kolam
heterotrofik dan semi-batch memiliki nilai survival rate yang rendah yang
menunjukkan rata-rata berat udang tinggi akibat kompetisi pakan berkurang. Pada
struktur komunitas mikroba di air, sistem ZWD dan kolam heterotrofik
menunjukkan dominansi tinggi dengan indeks D sebesar 0,998-0,999 pada medium
TSA di akhir budidaya. Kemudian, sampel udang ketiga sistem menunjukkan
diversitas sedang dengan dominansi rendah selama masa budidaya pada kedua
medium, mengindikasikan bahwa komunitas mikroba pada tubuh udang tidak
dipengaruhi secara langsung oleh air sistem. Hasil analisis proksimat menunjukkan
konversi energi yang stabil pada sistem ZWD berdasarkan kadar energi total
(112,97 ± 0,28 kkal) dan kadar karbohidrat yang tinggi (5,10 ± 0,04%). Pada kolam
heterotrofik, ditemukan kadar protein tertinggi (21,12 ± 0,11%). Sedangkan itu,
pada sistem semi-batch tidak ditemukan keunggulan pada proksimat. Dengan ini,
dapat disimpulkan terdapatnya keunggulan pada sistem ZWD yang mampu
diaplikasikan pada tambak di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB