digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri air minum kemasan menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang bagi perusahaan, didorong oleh pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan tren gaya hidup sehat. Oleh karena itu banyak perusahaan yang memasuki industri air minum dalam kemasan ini. Namun hanya beberapa perusahaan mengembangkan bisnisnya melalui pasar modal sehingga perusahaan yang terdaftar di bursa saham indonesia belum tentu menarik seperti industrinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja keuangan, nilai intrinsik dan valuasi saham pada perusahaan air minum dalam kemasan yang listed di bursa saham indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan top down analisis yang dimulai dari ekternal analisil, dilanjutkan dengan internal analisis yaitu menilai kinerja keuangan terkait ratio profitabilitas, ratio aktivitas, solvabilitas dan likuiditas, kemudian valuasi saham menggunakan Garp valuation, Absolute Valuation dan DCF valuation. Penelitian ini menggunakan data tahun 2017-2025 pada PT Sariguna Primatirta Tbk (Cleo) yang merupakan perusahaan yang fokus pada satu segmen saja dan PT Akasha Wira internasional Tbk (ADES) yang merupakan perusahaan terdiversifikasi dengan segmen kosmetik dan segmen makanan dan minuman. Untuk air dalam kemasan memiliki kontribusi sebesar 33-38% terhadap seluruh pendapatan. Hasil external analisis menunjukkan bahwa industri air minum dalam kemasan menarik dalam jangka panjang walaupun memiliki tekanan pada kompetitif yang tinggi. sedangkan pada analisis kinerja keuangan hasilnya menunjukkan bahwa ADES secara konsolidasi lebih unggul pada ratio profitabilitas, ratio likuiditas dan fixed asset turnover sedangkan CLEO lebih unggul pada ratio aktivitas. Kemudian, berdasarkan penilaian relatif, CLEO dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan ADES, dan berdasarkan penilaian DCF, CLEO dinilai lebih tinggi dengan nilai intrinsik sebesar Rp393 dan margin of safety sebesar -1%, sedangkan ADES dinilai terlalu rendah dengan nilai intrinsik sebesar Rp26.883 dan margin of safety sebesar 37%. kemudian berdasarkan penilaian GARP, yang diukur berdasarkan tingkat pertumbuhan berkelanjutan (SGR), menunjukkan bahwa CLEO dinilai terlalu tinggi dengan nilai intrinsik sebesar Rp260 dan margin of safety (MOS) sebesar -53%, sedangkan ADES dinilai terlalu rendah dengan nilai intrinsik sebesar Rp27.657 dan margin of safety sebesar 39%. Sedangkan jika diukur berdasarkan pertumbuhan CAGR EPS, menunjukkan bahwa CLOE juga masih dinilai terlalu tinggi dengan nilai intrinsic Rp308 dan margin of safety (MOS) sebesar -29% dan ADES dinilai juga terlalu rendah dengan nilai intrinsic sebesar Rp49,028 dan margin of safety (MOS) sebesar 65%. Oleh karena itu, bagi investor yang berfokus pada nilai dan potensi pertumbuhan, ADES dapat menjadi pilihan yang menarik untuk investasi jangka panjang, sedangkan bagi investor yang percaya pada pertumbuhan yang tinggi, CLEO dapat menjadi pilihan investasi yang menarik.