Abstrak - Vania Amanda
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Budidaya udang putih (Litopenaeus vannamei) fase pendederan pada sistem intensif sering
terkendala oleh infeksi Vibrio parahaemolyticus penyebab vibriosis. Bakteriofaga ?Vp07
diusulkan sebagai agen biokontrol presisi untuk menekan populasi patogen tersebut. Penelitian
ini bertujuan untuk menentukan nilai Multiplicity of Infection (MOI) optimum bakteriofaga
?Vp07 serta mengevaluasi tingkat efektivitasnya pada sistem pemeliharaan Zero Water
Discharge (ZWD) dan semi-batch. Penelitian secara in vivo diawali dengan pemeliharaan
benur tahap PL-08 pada kepadatan 500 PL/m3 dalam sistem ZWD dan semi-batch secara
terpisah. Seleksi dosis MOI (0,1 dan 1) dilakukan melalui uji tantang pada udang umur DOC
30 yang diinfeksi V. parahaemolyticus (VpA) dengan konsentrasi 106 CFU/mL. Pengujian
dilanjutkan dengan perlakuan infeksi VpA berkonsentrasi sama dan terapi faga dengan MOI 1
pada udang DOC 40 menggunakan air dari tangki budidaya ZWD dan semi-batch selama 168
jam. Hasil uji tantang menunjukkan bahwa aplikasi faga dengan MOI 1 memiliki efektivitas
reduksi Vibrio sp. yang lebih optimal dibandingkan MOI 0,1. Hasil pengamatan selama 168
jam masa perlakuan menunjukkan bahwa kelompok kontrol negatif pada kedua sistem mampu
mempertahankan kesintasan 100%, namun aplikasi terapi faga menghasilkan tingkat
kesintasan akhir yang lebih rendah (53% pada semi-batch dan 7% pada ZWD) dibandingkan
dengan kelompok kontrol positif infeksi (67% pada semi-batch dan 17% pada ZWD) akibat
terpicunya fenomena kekosongan relung ekologi. Berkurangnya kelimpahan bakteri target di
kolom air memberikan ruang kompetisi bagi galur Vibrio oportunistik indigen pembentuk
koloni hijau yang mengalami peningkatan populasi secara eksponensial pada jam ke-72. Galur
indigen oportunistik hipervirulen seperti isolat G2 mendominasi perairan dan menginvasi
organ hepatopankreas serta usus, sehingga diduga menjadi penyebab utama mortalitas inang.
Sistem semi-batch terbukti lebih mampu memfasilitasi kelangsungan hidup udang pada
perlakuan terapi faga dengan kesintasan sebesar 53% dibandingkan sistem ZWD (7%) akibat
lebih terkendalinya kualitas air yang meliputi amonium, nitrit, dan nitrat. Secara keseluruhan,
sistem semi-batch lebih mendukung kinerja bakteriofaga dibandingkan ZWD, dengan saran
penggunaan faga dalam bentuk kombinasi atau cocktail pada masa mendatang untuk
mencegah dominasi patogen oportunistik sekunder di perairan.
Perpustakaan Digital ITB