digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 ANITA AULIA ABSTRAK
PUBLIC Open In Flipbook Dwi Ary Fuziastuti

Evaluasi kinerja produk pasca-peluncuran (Post Implementation Review / PIR) merupakan mekanisme penting bagi perusahaan asuransi jiwa untuk memastikan produk yang telah dipasarkan memenuhi ekspektasi profitabilitas, kepatuhan regulasi, dan kualitas layanan. Namun, proses evaluasi ini bersifat multikriteria dengan data kuantitatif maupun kualitatif, serta belum memiliki kerangka pembobotan terstruktur untuk membandingkan performa antarproduk secara simultan. Penelitian ini menyimulasikan penerapan model perankingan performa produk asuransi jiwa yang mengintegrasikan metode Analytic Network Process (ANP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) pada lima produk fiktif yang dirancang berdasarkan karakteristik industri. Model evaluasi terdiri atas 5 klaster dan 13 subkriteria yang mencakup dimensi keuangan, respons nasabah, manajemen risiko, operasional, serta pasar dan distribusi, dengan penilaian perbandingan berpasangan oleh 8 pakar yang disimulasikan menggunakan Large Language Model (Claude, Anthropic) di bawah protokol isolasi antarpersona. Dalam skenario simulasi ini, hasil pembobotan ANP menunjukkan dominasi dua dari lima klaster dengan bobot agregat 39,9% dan 34,9%, sementara bobot subkriteria tertinggi mencapai 16,8%. Pemeringkatan TOPSIS menunjukkan hanya satu dari lima produk memiliki koefisien kedekatan relatif (Ci) di atas threshold, dan analisis gap terbobot mengidentifikasi subkriteria yang paling memengaruhi posisi setiap produk. Analisis sensitivitas terhadap 216 skenario perturbasi bobot serta validasi silang metode SAW (?s = 0,90) mengonfirmasi hasil perankingan bersifat robust dalam lingkup simulasi. Karena seluruh objek dan penilaian bersifat simulatif, hasil numerik ini merupakan demonstrasi penerapan kerangka, bukan penilaian atas produk nyata; validasi dengan pakar manusia dan data nyata menjadi arah pengembangan selanjutnya. Kerangka ANP-TOPSIS terbukti dapat menjadi instrumen evaluasi PIR yang terstruktur, mampu mengidentifikasi dimensi kelemahan per produk, dan memberikan landasan kuantitatif bagi prioritas tindakan korektif.