ABSTRAK Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Fanny Sonia Manurung
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Indonesia dan Kota Bandung tengah menghadapi peningkatan persentase populasi
lansia yang signifikan. Di sisi lain, ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Bandung baru mencapai 12,88%, jauh di bawah ambang batas 30%. Meski telah
berstatus Kota Ramah Lansia, Bandung belum memiliki panduan perancangan
teknis. Taman Lansia Bandung, sebagai RTH situs cagar budaya, memiliki tingkat
ketercapaian prinsip ramah lansia yang masih rendah, yakni 42,63%. Penelitian
kualitatif ini bertujuan merancang ulang Taman Lansia melalui pendekatan
placemaking dan desain ramah lansia. Menggunakan Fragmental Method dengan
teknik optimizing, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan,
kuesioner kepada 87 responden, wawancara mendalam dengan empat instansi, dan
studi dokumen. Analisis tapak memadukan aspek White (1983) dan elemen
Shirvani (1985), disertai analisis persepsi pengunjung serta potensi dan persoalan
kawasan. Sintesis literatur merumuskan empat kriteria perancangan: keamanan dan
kenyamanan, aksesibilitas dan keterbacaan, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas.
Analisis kawasan mengidentifikasi 8 potensi dan 14 persoalan yang didominasi
oleh isu keamanan dan aksesibilitas. Rancangan ini mengusung visi "Evergreen and
ALIVE" yang diwujudkan ke dalam empat zona aktivitas dan jalur sirkulasi
universal. Hasil akhir perancangan mematuhi aturan RTH Sub Zona Rimba Kota
dengan proporsi koefisien dasar hijau mencapai 80,18%. Kebaruan penelitian ini
terletak pada integrasi placemaking dan konsep ramah lansia ke dalam satu
kerangka perancangan ulang taman publik cagar budaya. Hasil penelitian
berkontribusi menyediakan kriteria ruang publik inklusif bagi lansia, serta menjadi
model fisik penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2021 yang dapat
diadaptasi oleh kota lain.
Perpustakaan Digital ITB