Abstrak - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB I - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB VI - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB VII - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA - Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN -Raisya Salma Maheswari
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Nanas (Ananas comosus L.) merupakan komoditas hortikultura unggulan Indonesia
yang memiliki potensi ekonomi tinggi, namun rentan mengalami kerusakan
pascapanen akibat umur simpan yang singkat. Pengolahan menjadi sari buah olahan
minimal menawarkan peluang yang menjanjikan, akan tetapi produk ini sangat
rentan terhadap penurunan mutu akibat aktivitas mikrobiologis dan fermentasi
selama rantai distribusi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dirancang sebuah
sistem produksi sari buah nanas yang terintegrasi dengan inovasi kemasan cerdas
(smart packaging) yang dapat mendeteksi perubahan kesegaran pada minuman sari
buah nanas secara real time sehingga konsumen dapat mengetahui kondisi produk
sebelum membeli dan menkonsumsinya. Sistem produksi pascapanen ini mencakup
tiga subsistem utama: preparasi bahan baku (sortasi, pencucian, pengupasan,
pemotongan), pengolahan sari buah (ekstraksi cold press tanpa pasteurisasi termal,
diformulasikan dengan gula 10% dan natrium benzoat 0,06%), serta pengemasan
dan penyimpanan pada suhu dingin (4?C). Inovasi yang dikembangkan adalah label
indikator kesegaran berbasis biopolimer pati singkong yang diintegrasikan dengan
ekstrak pigmen alami antosianin sebagai sensor pH, serta penambahan senyawa
katekin sebagai kopigmen. Tujuan pemilihan inovasi ini adalah untuk memberikan
informasi visual secara real-time dan non-destruktif kepada konsumen mengenai
tingkat kesegaran produk melalui perubahan warna label yang responsif terhadap
fluktuasi pH akibat proses fermentasi. Penambahan katekin berfungsi untuk
menstabilkan struktur molekul antosianin dan memperkuat intensitas warna
indikator. Sistem dirancang untuk kapasitas produksi sebanyak 1.000 cup (250 mL)
per batch dengan frekuensi tiga kali seminggu, sehingga menghasilkan total
produksi 156.000 cup per tahun dengan kebutuhan bahan baku nanas segar 350 kg
per batch. Keunggulan produk yang dihasilkan meliputi kualitas nutrisi alami yang
tetap terjaga, jaminan keamanan pangan yang dapat dipantau secara mandiri oleh
konsumen, penerapan sistem produksi zero waste melalui pendistribusian limbah
organik (kulit dan ampas) sebagai pakan ternak, serta nilai jual dan daya saing yang
tinggi. Berdasarkan analisis kelayakan finansial, sistem produksi ini dinilai sangat
layak dan menguntungkan untuk direalisasikan dengan perolehan Gross Profit
Margin (GPM) sebesar 25,41%, Net Present Value (NPV) positif sebesar
Rp2.747.254.112,29, Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) sebesar 2,60, Internal Rate
of Return (IRR) mencapai 37,17% yang berada jauh di atas tingkat suku bunga
acuan (8%), Profitability Index (PI) 2,60, Payback Period (PP) yang relatif singkat
yakni 2,91 tahun, serta titik impas atau Break Even Point (BEP) yang dapat dicapai
pada penjualan 91270 unit produk atau penerimaan sebesar Rp 1.460.323.715.
Perpustakaan Digital ITB