Pertumbuhan kota yang pesat sering kali mengakibatkan menurunnya kualitas interaksi sosial dan keseimbangan ekologis di kawasan perkotaan. Dalam konteks tersebut, ruang terbuka hijau publik (RTH publik) memiliki peran vital sebagai wadah rekreasi, interaksi sosial, serta penunjang fungsi ekologis kota. Kota Bandung, sebagai kota metropolitan dengan kepadatan tinggi, menghadapi tantangan dalam mempertahankan proporsi dan kualitas RTH yang dapat diakses secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu ruang terbuka utama yang memiliki nilai sejarah, ekologis, sekaligus sosial adalah Taman Tegallega, yang saat ini menunjukkan gejala penurunan fungsi dan identitas akibat tekanan aktivitas urban, ketidakteraturan penggunaan ruang, dan kurangnya keterhubungan antar elemen ruang. Permasalahan tersebut mendorong perlunya perancangan ulang kawasan dengan pendekatan yang menempatkan manusia dan makna ruang sebagai pusat pengembangan, yaitu melalui konsep placemaking dan prinsip inklusivitas.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arah perancangan lanskap Taman Tegallega Bandung sebagai ruang terbuka hijau publik yang aktif, inklusif, dan memiliki identitas tempat yang kuat. Pendekatan placemaking digunakan untuk menggali potensi ruang melalui dimensi pengalaman, aktivitas, dan makna sosial pengguna, sementara prinsip inklusivitas diterapkan untuk memastikan akses dan keterlibatan setara bagi seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang usia, gender, atau latar sosial. Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab bagaimana prinsip placemaking dan inklusivitas dapat diterjemahkan ke dalam elemen fisik dan non-fisik lanskap taman kota, agar ruang publik dapat berfungsi optimal sebagai ruang hidup bersama (shared space).
Metode yang digunakan mencakup tahapan site inventory, site analysis, dan conceptual design. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara informal dengan pengguna taman, serta telaah literatur mengenai teori placemaking, desain inklusif, dan kebijakan tata ruang kota. Aspek yang dianalisis meliputi kondisi fisik (topografi, sirkulasi, vegetasi), aspek sosial (pola aktivitas, persepsi pengguna, interaksi sosial), serta aspek kebijakan (RTRW dan RDTR Kota Bandung). Analisis dilakukan dengan pendekatan opportunities and constraints serta significance and suitability, untuk mengidentifikasi potensi dan masalah utama kawasan sebagai dasar perumusan konsep perancangan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Taman Tegallega memiliki posisi strategis di pusat Kota Bandung, dengan potensi ekologis dan sejarah yang kuat, namun menghadapi
degradasi fungsi ruang akibat aktivitas yang tidak terkelola dan kurangnya integrasi antar zona. Taman ini cenderung berfungsi sebagai ruang transit ketimbang ruang interaksi, dengan distribusi aktivitas yang tidak merata dan area kosong yang belum termanfaatkan optimal. Berdasarkan telaah tata ruang, kawasan ini termasuk dalam zona “Ruang Terbuka Non Hijau (Sarana Olahraga)” dalam RTRW Kota Bandung, yang mengizinkan aktivitas publik non-komersial namun tetap menekankan fungsi hijau dan sosial.
Perancangan yang diusulkan menekankan tiga strategi utama, yaitu: (1) Rekontekstualisasi makna ruang publik melalui penerapan prinsip placemaking yang menghidupkan kembali identitas lokal dan memfasilitasi pengalaman ruang yang beragam; (2) Perancangan ruang yang inklusif dengan memastikan akses universal, keberagaman fasilitas, serta distribusi ruang yang adil bagi semua kelompok pengguna; dan (3) Penguatan sistem ekologis dan konektivitas kota melalui pengelolaan vegetasi adaptif, sirkulasi pedestrian dan sepeda yang terhubung, serta integrasi elemen biru-hijau.
Pendekatan placemaking yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada fisik ruang, tetapi juga menekankan keterlibatan pengguna dalam membentuk identitas dan makna taman. Dengan demikian, rancangan Taman Tegallega diarahkan menjadi ruang hidup yang terbuka, nyaman, dan inklusif serta membangun tempat masyarakat merasa memiliki dan berinteraksi secara setara. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan simultan konsep placemaking dan inklusivitas dalam konteks perancangan ruang terbuka hijau publik kota yang padat, dengan menggabungkan dimensi sosial, ekologis, dan kebijakan tata ruang secara terpadu.
Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik perancangan lanskap perkotaan di Indonesia, terutama dalam mewujudkan ruang publik yang berkelanjutan, beridentitas, dan inklusif. Selain itu, hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, akademisi, dan praktisi dalam merumuskan kebijakan maupun rancangan ruang terbuka hijau publik di kawasan perkotaan lain dengan karakter sosial yang serupa.
Perpustakaan Digital ITB