Proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik nasional sebesar 7,3% per tahun memicu tantangan operasional pada Sistem Interkoneksi Sumatera akibat ketidakseimbangan geografis antara pusat pembangkitan murah di selatan dan pusat beban di utara. Kondisi ini menuntut transfer daya berskala besar melalui jaringan transmisi jarak jauh yang dibatasi aspek termal, tegangan, dan kestabilan transien. Perancangan ini bertujuan menentukan batas transfer daya secara akurat pada enam ruas transmisi backbone Sumatera guna menjamin keamanan operasi sistem. Berdasarkan evaluasi matriks keputusan, metode holistik terpilih sebagai solusi terbaik dengan skor tertinggi sebesar 4,10, mengungguli metode parsial dengan skor 2,45 dan fokus 150 kV dengan skor 3,25, karena mampu mendeteksi pembatas lintas level tegangan yang terintegrasi pada sistem 150 kV, 275 kV, dan 500 kV. Hasil simulasi aliran daya dan kestabilan transien menunjukkan batas transfer pada enam ruas backbone: Muara Enim – Gumawang dibatasi sebesar 2 x 359,058 MW akibat pembebanan termal transformator IBT Lampung 1 yang mencapai 99,8% pada kondisi normal N-0; Newpadang Sidempuan – Payakumbuh sebesar 166,587 MW, New Aurduri – Peranap sebesar 372,010 MW, dan Pangkalan Brandan – Langsa sebesar 151,820 MW dibatasi oleh penurunan tegangan kritis sebesar 0,901 p.u. pada kondisi kontingensi N-1; Muara Bungo – Sungai Rumbai sebesar 543,360 MW dibatasi oleh kapasitas maksimum pembangkit Jambi; serta Lubuk Linggau – Bangko sebesar 479,820 MW akibat kestabilan sudut rotor marginal PLTU Banjar Sari dengan rasio redaman 4,07% dan tegangan bus Bangko sebesar 0,903 p.u. Seluruh batas transfer tersebut terverifikasi aman karena memiliki margin memadai di atas batas trip proteksi Under Voltage Load Shedding Sumatera, yaitu di atas 0,900 p.u. untuk sistem 150 kV dan di atas 0,902 p.u. untuk sistem 275 kV.
Perpustakaan Digital ITB