Perkembangan kecerdasan buatan dan deep learning telah menyebabkan sebagian besar
sistem CAPTCHA konvensional tidak lagi mampu membedakan manusia dari bot secara andal.
Slider CAPTCHA, salah satu varian yang populer karena pengalaman pengguna yang lebih baik,
terbukti rentan terhadap serangan berbasis notch detection menggunakan algoritma edge
detection dan template matching dengan tingkat keberhasilan mendekati 100%. Penelitian ini
mengusulkan dan mengimplementasikan sistem puzzle slider CAPTCHA berbasis persamaan
acak yang memetakan nilai slider ke posisi dan rotasi puzzle piece melalui fungsi parametrik
non-linear, sehingga akurasi deteksi visual tidak lagi berkorelasi langsung dengan kemampuan
bot menembus verifikasi. Sistem dibangun dengan arsitektur tiga subsistem yang berkomunikasi
melalui HTTP REST, terdiri dari backend Fastify/Node.js, frontend React 19, dan modul
pengujian bot berbasis Python/OpenCV. Pengujian dilakukan sebanyak 1.000 percobaan per
mode menggunakan bot yang menerapkan Canny edge detection dan template matching. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa mode konvensional menghasilkan bypass rate sebesar 83,7%,
konsisten dengan temuan pada literatur terdahulu, sedangkan mode persamaan acak hanya
menghasilkan bypass rate sebesar 0,4%. Meskipun algoritma visi komputer masih mampu
mendeteksi posisi notch secara visual pada mode persamaan acak dengan recognizability rate
sebesar 66,0% pada ambang batas 5 piksel, kemampuan deteksi visual tersebut tidak
menghasilkan kemampuan bypass yang sebanding, karena server memverifikasi nilai slider
sebagai domain verifikasi, bukan koordinat piksel. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan
sistem CAPTCHA dapat ditingkatkan secara fundamental dengan memisahkan ruang nilai
koordinat piksel dari ruang nilai input verifikasi melalui pemetaan parametrik non-linear.
Perpustakaan Digital ITB