Rantai pasok kentang olahan di Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan ketersediaan dan kualitas bahan baku, serta tingginya ketergantungan pada bahan baku impor. Meskipun Jawa Barat diharapkan dapat berperan sebagai lokasi produksi strategis untuk sumber pasokan, rantai pasok tersebut masih sering mengalami gangguan pasokan secara berkala. Temuan lapangan menunjukkan bahwa permasalahan tersebut tidak semata-mata terbatas pada aspek teknis produksi kentang, melainkan lebih dipicu oleh persoalan tata kelola kemitraan dan ketiadaan kerangka manajemen risiko dalam rantai pasok. Oleh karena itu, pengembangan model kemitraan yang terinformasi dan berorientasi pada risiko menjadi isu manajerial yang mendesak bagi PT PQR.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model kemitraan strategis antara PT PQR dan petani kentang untuk kentang olahan di Jawa Barat yang mampu meningkatkan keandalan rantai pasok melalui penguatan kelembagaan dan mitigasi risiko sebagai prioritas utama. Secara lebih spesifik, tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi perbedaan utama antara praktik kemitraan yang saat ini diterapkan dengan praktik terbaik (best practices) melalui benchmarking, dan (2) mengembangkan model kemitraan yang berlandaskan pada mitigasi risiko dan perencanaan kontinjensi.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan utama di Divisi Rantai Pasok PT PQR, agronom lapangan, serta pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan dengan petani dan agregator. Data sekunder diperoleh dari dokumen internal perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Analisis Benchmarking, Analisis Kesenjangan (Gap Analysis), serta Analisis Risiko Rantai Pasok dengan menggunakan Risk Priority Index (RPI) dan peta panas risiko (risk heat map).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko paling penting terkonsentrasi pada tiga area utama. Pertama, risiko yang berkaitan dengan aspek kelembagaan, seperti kurangnya mekanisme koordinasi yang baik, kejelasan peran, serta penegakan perjanjian kontrak, merupakan risiko dengan prioritas tertinggi. Kedua, risiko yang berkaitan dengan dukungan terhadap proses produksi disebabkan oleh ketidakkonsistenan kualitas benih serta tingkat dukungan teknis, pengendalian mutu, dan pengelolaan panen. Ketiga, risiko operasional dan finansial meliputi keterlambatan jadwal tanam benih serta ketidakmampuan petani untuk memenuhi kewajiban kemitraan akibat keterbatasan likuiditas.
Berdasarkan temuan empiris tersebut, penelitian ini mengusulkan model kemitraan agregator yang disempurnakan, yang ditopang oleh kontrak multi-tahun, pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas, proses dukungan produksi yang terharmonisasi, serta proses koordinasi risiko yang terstruktur. Model yang diusulkan juga mengintegrasikan analisis kinerja yang berfokus pada risiko, yang dilengkapi dengan rencana kontinjensi risiko secara spesifik untuk mengelola risiko kelembagaan, risiko produksi, dan risiko operasional yang diprioritaskan. Model ini bertujuan untuk menyelaraskan struktur kemitraan dengan lingkungan risiko yang ada dalam rantai pasok, sehingga dapat membantu menjamin keandalan pasokan, mengurangi ketergantungan negara terhadap impor kentang, serta memperkuat ketahanan rantai pasok kentang olahan PT PQR.
Dari sudut pandang praktis, penelitian ini menunjukkan bagaimana proses benchmarking, analisis kesenjangan, dan analisis risiko dalam rantai pasok dapat dimanfaatkan dalam perancangan model kemitraan agribisnis yang terstruktur dan responsif terhadap risiko.
Perpustakaan Digital ITB