digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengelolaan aset situs cagar budaya memerlukan representasi digital yang mampu mengintegrasikan informasi geometrik, semantik, dan referensi spasial untuk mendukung proses pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan aset secara berkelanjutan. Perkembangan teknologi seperti Historic Building Information Modeling (HBIM), Sistem Informasi Geografis (SIG), point cloud, ThreeDimensional Gaussian Splatting (3DGS), dan teknologi immersive visualization telah memberikan kontribusi dalam dokumentasi, visualisasi, dan pemodelan bangunan cagar budaya. Namun, masing-masing teknologi masih dikembangkan secara terpisah sehingga interoperabilitas antar representasi digital belum mampu mendukung pengelolaan aset cagar budaya secara komprehensif. Selain itu, pemanfaatan 3DGS sebagai representasi fotorealistik yang terintegrasi dengan HBIM, SIG, dan sistem manajemen aset masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka interoperabilitas berbasis HBIM yang mengintegrasikan berbagai representasi digital untuk mendukung pengelolaan aset situs cagar budaya, mengembangkan model interaksi dan geovisualisasi immersive untuk mendukung pengambilan keputusan, serta mengimplementasikan purwarupa sebagai media verifikasi terhadap kerangka dan model interaksi dan geovisualisasi yang diusulkan. Penelitian dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu Requirement Analysis, Data Acquisition, Modelling, Data Integration, dan Prototype Development. Kerangka yang dikembangkan mengintegrasikan HBIM berbasis Industry Foundation Classes (IFC), 3D GIS berbasis CityGML, sistem manajemen aset, point cloud, dan 3DGS dalam satu lingkungan geospasial yang mempertahankan keterhubungan informasi geometrik, semantik, dan referensi spasial melalui pemanfaatan standar terbuka dan mekanisme semantic mapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka interoperabilitas yang dikembangkan mampu mengintegrasikan berbagai representasi digital secara konsisten tanpa kehilangan informasi geometrik, semantik, maupun referensi spasial. Kerangka tersebut menjadi dasar pengembangan model interaksi geovisualisasi yang mendukung eksplorasi informasi, inspeksi virtual, visualisasi multirepresentasi, serta pengelolaan informasi aset dalam satu lingkungan digital yang terpadu. Purwarupa yang dikembangkan memverifikasi implementasi kerangka melalui visualisasi tiga dimensi berbasis web dan immersive visualization, yang memungkinkan penyajian model HBIM, CityGML, point cloud, dan 3DGS ii secara terintegrasi untuk mendukung inspeksi bangunan dan pengambilan keputusan. Kebaruan penelitian ini bukan hanya integrasi berbagai representasi digital, tetapi pengembangan mekanisme semantic mapping berbasis HBIM yang mempertahankan keterkaitan geometri, semantik, dan referensi spasial sebagai dasar model interaksi dan geovisualisasi immersive yang memungkinkan penyajian informasi geometrik, semantik, dan referensi spasial secara terpadu. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap interoperabilitas data geospasial dan Historic Building Information Modeling (HBIM) untuk mendukung pengelolaan cagar budaya, khususnya dalam aspek perlindungan melalui penilaian kondisi fisik bangunan, serta menyediakan landasan bagi pengembangan Digital Twin pada penelitian selanjutnya.