Koridor Jalan Jogokariyan di Kota Yogyakarta telah bertransformasi menjadi kawasan strategis dengan identitas kuat sebagai kampung budaya dan destinasi wisata religi yang berpusat pada aktivitas Masjid Jogokariyan. Namun, tingginya intensitas kegiatan masyarakat, terutama pada momen keagamaan dan festival budaya, menimbulkan tekanan signifikan pada koridor jalan. Dominasi kendaraan bermotor, minimnya fasilitas pejalan kaki yang inklusif, serta konflik penggunaan ruang menyebabkan degradasi kualitas ruang publik dan kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, diperlukan upaya perancangan ulang untuk mengembalikan fungsi koridor sebagai ruang interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan metode prosedural fragmental process. Metode perancangan yang diterapkan meliputi problem solving dan optimizing melalui metode analisis evaluasi semu (pseudo-evaluation) untuk mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara prinsip normatif shared spaces dengan kondisi eksisting kawasan. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, pemetaan aktivitas, wawancara, dan studi literatur terkait kawasan cagar budaya serta pariwisata religi. Hasil perancangan ditunjukkan melalui konsep pengembangan dengan tema "Jogokariyan: Hamemayu Kahuripan – Faithscape of Culture". Konsep ini diimplementasikan melalui pembagian tiga segmen koridor, yaitu: Segmen Poleng (Welcome Gate), Segmen Jogokariyan (Central Area), dan Segmen Kawung (Supporting Trail). Intervensi desain utama meliputi perubahan sirkulasi kendaraan menjadi satu arah, pemusatan kantong parkir, pelebaran area pejalan kaki tanpa segregasi ketinggian (curbless), serta penerapan elemen visual bermotif budaya pada perkerasan jalan. Desain ini juga menciptakan flexible street yang adaptif terhadap kegiatan rutin maupun insidental seperti salat berjamaah dan pasar rakyat. Penerapan pendekatan shared spaces efektif dalam mentransformasi Jalan Jogokariyan dari sekadar infrastruktur lalu lintas menjadi ruang publik yang humanis dan berkarakter. Perancangan ini dapat mengintegrasikan fungsi mobilitas, spiritualitas, dan interaksi sosial, sekaligus memperkuat identitas kawasan sebagai living heritage yang aman dan inklusif.
Perpustakaan Digital ITB