PT Parama Global Inspira (PGI) merupakan yang mendistribusikan produk ParagonCorp dari Paragon National Distribution Center di Jatake, Tangerang, menuju 15 distribution center (DC) yang menerima kiriman secara langsung. Sebanyak 86,4% pengiriman dilakukan dalam bentuk palet menggunakan kemasan sekali pakai berupa bungkus film plastik dan strap, yang sepanjang 48 pekan tahun 2024 menghasilkan 2.052.908,55 dan 1.175.987,12 meter limbah dari 72.413 palet yang dikirimkan. Untuk mereduksi sampah tersebut, PT PGI berencana melakukan substitusi ke kemasan palet guna ulang.
Hambatan utama substitusi adalah masalah desain, yaitu belum tersedianya kemasan guna ulang yang mampu mengakomodasi fungsi proteksi dan containment ketika ukuran muatan palet bervariasi. Penelitian ini bertujuan merancang konsep kemasan yang menjawab masalah desain tersebut serta membandingkan dampak lingkungan kemasan guna ulang dan sekali pakai. Perancangan dilakukan melalui tahap conceptual design menggunakan Quality Function Deployment for Environment (QFDE), Theory of Inventive Problem Solving (TRIZ), dan metode Pugh, sedangkan asesmen dampak lingkungan dilakukan dengan Life Cycle Assessment (LCA) bercakupan cradle-to-grave.
Konsep desain terpilih adalah kemasan palet guna ulang berbahan kain poliester berlapis PVC dengan penutup atas elastis yang menyatu pada body, empat tali pengerat horizontal berbasis hook-and-loop velcro, serta dua tali pengerat vertikal bermekanisme ratchet buckle. Untuk unit fungsional 300 kali pengiriman pada rute DC Bogor yang berjarak 61 km, konsep tersebut menurunkan dampak acidification sebesar 73%, climate change sebesar 71%, dan freshwater ecotoxicity sebesar 82%,. Namun, fase penggunaan menyumbang 36,2-48,8% dampak kemasan guna ulang akibat aktivitas reverse logistics, jauh lebih besar dibandingkan kemasan sekali pakai yang hanya 0,1%-3,6%, sehingga keunggulan lingkungannya tidak bersifat universal melainkan bergantung pada jarak rute pengiriman. Analisis sensitivitas membuktikan penurunan dampak lingkungan berkurang pada rute DC Bandung (50%) yang berjarak 152 km dan pada rute DC Ecom Tegal (11%) yang berjarak 325 km. Di sisi lain, pada rute DC Kediri yang berjarak 707 km, dampak lingkungan justru bertambah 74% karena dampak transportasi kemasan guna ulang per satu kali pemakaian melampaui total dampak satu unit kemasan sekali pakai. Dengan demikian, disimpulkan substitusi kemasan palet guna ulang layak secara lingkungan diterapkan untuk DC di Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, tetapi tidak layak untuk DC di Provinsi Jawa Timur.
Perpustakaan Digital ITB