Penelitian ini mengevaluasi jaringan distribusi yang diperlukan untuk mendukung
ekspansi Toko Bakmi Kita dari satu menjadi sepuluh outlet pada 2029. Central
Kitchen yang ada di Serang diproyeksikan melampaui kapasitas seiring
peningkatan permintaan, sehingga menimbulkan risiko bottleneck produksi, stock
out, ketidakkonsistenan kualitas produk, dan kenaikan biaya logistik. Penelitian ini
bertujuan menentukan kebutuhan kapasitas, membandingkan alternatif jaringan
distribusi, dan memilih model yang paling sesuai berdasarkan pertimbangan
finansial dan nonfinansial.
Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal eksplanatori dengan data
replenishment historis, proyeksi permintaan, koordinat outlet, asumsi biaya, serta
penilaian manajerial dari dua owner dan satu Head of Central Kitchen. Analisis
menggabungkan perencanaan kapasitas, clustering geospasial K-Means,
pemodelan biaya logistik berbasis Python, analisis sensitivitas, dan Analytic
Hierarchy Process.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sepuluh outlet membutuhkan area
produksi Central Kitchen sebesar 382,21 m² dan area penyimpanan sebesar 140,00
m². Empat skenario dievaluasi. Dari sisi biaya, Skenario 3: Optimal CK–Direct
memberikan hasil terbaik dengan total biaya logistik sekitar Rp2,08 miliar per
bulan dan biaya per kilogram sebesar Rp181.464,28, atau lebih rendah 2,05%
dibandingkan skenario dasar. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan
permintaan memberikan dampak terbesar terhadap biaya logistik.
Namun, hasil AHP memilih Skenario 2: Existing CK–Hub sebagai alternatif terbaik
secara keseluruhan dengan prioritas normalisasi sebesar 0,395048. Kriteria
Service and Product Quality serta Supply Reliability secara bersama-sama
mewakili lebih dari 80% bobot keputusan. Oleh karena itu, Skenario 3 digunakan
sebagai tolok ukur efisiensi biaya, sedangkan Skenario 2 direkomendasikan karena
lebih mendukung konsistensi produk, ketersediaan stok, dan keandalan layanan.
Implementasi bertahap mulai Q3 2026 direkomendasikan.
Perpustakaan Digital ITB