digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pemerataan pendidikan di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama bagi masyarakat adat Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang tinggal di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Sebagai komunitas yang hidup secara nomaden dan memiliki keterikatan kuat terhadap nilai serta sistem adat, Orang Rimba menghadapi ketidaksesuaian dengan sistem pendidikan formal yang bersifat menetap, dan terstruktur. Kondisi ini menyebabkan akses pendidikan menjadi terbatas dan tidak merata. Untuk menjawab tantangan tersebut, Sekolah Rimba mengembangkan pendekatan pendidikan kontekstual yang menyesuaikan metode belajar dengan kondisi sosial, budaya, dan pola hidup masyarakat melalui program Visit Mobile School, yaitu sistem pembelajaran di mana guru mendatangi langsung peserta didik. Namun, program ini menghadapi kendala logistic selama pelaksanaanya. Guru harus membawa perlengkapan mengajar secara mandiri melewati medan hutan yang sulit dan berpindah mengikuti mobilitas Orang Rimba. Keterbatasan fasilitas penyimpanan serta media pembelajaran yang sesuai konteks turut menghambat efektivitas pembelajaran, sehingga frekuensi Visit Mobile School masih rendah dan belum menjangkau seluruh anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pendidikan Sekolah Rimba, mengidentifikasi kebutuhan guru dan peserta didik, serta merancang fasilitas belajar yang relevan dengan kondisi lapangan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis melalui studi literatur, wawancara, dan survei lapangan. Hasil penelitian berupa desain ransel Sekolah Rimba modular yang ringkas untuk mengakomodasi kebutuhan logistik mengajar. Produk menggunakan sistem komponen attachable berbasis MOLLE yang memungkinkan fleksibilitas pembawaan kebutuhan. Desain ini diharapkan meningkatkan efisiensi mobilitas guru, memperluas pemerataan pendidikan, serta meningkatkan kualitas Visit Mobile School sehingga pendidikan kontekstual bagi Orang Rimba dapat terlaksana secara lebih efektif.