Pemerataan pendidikan di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama bagi masyarakat
adat Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang tinggal di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas,
Jambi. Sebagai komunitas yang hidup secara nomaden dan memiliki keterikatan kuat terhadap
nilai serta sistem adat, Orang Rimba menghadapi ketidaksesuaian dengan sistem pendidikan
formal yang bersifat menetap, dan terstruktur. Kondisi ini menyebabkan akses pendidikan menjadi
terbatas dan tidak merata. Untuk menjawab tantangan tersebut, Sekolah Rimba mengembangkan
pendekatan pendidikan kontekstual yang menyesuaikan metode belajar dengan kondisi sosial,
budaya, dan pola hidup masyarakat melalui program Visit Mobile School, yaitu sistem
pembelajaran di mana guru mendatangi langsung peserta didik.
Namun, program ini menghadapi kendala logistic selama pelaksanaanya. Guru harus membawa
perlengkapan mengajar secara mandiri melewati medan hutan yang sulit dan berpindah mengikuti
mobilitas Orang Rimba. Keterbatasan fasilitas penyimpanan serta media pembelajaran yang sesuai
konteks turut menghambat efektivitas pembelajaran, sehingga frekuensi Visit Mobile School
masih rendah dan belum menjangkau seluruh anak.
Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pendidikan Sekolah Rimba, mengidentifikasi
kebutuhan guru dan peserta didik, serta merancang fasilitas belajar yang relevan dengan kondisi
lapangan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis melalui studi literatur,
wawancara, dan survei lapangan.
Hasil penelitian berupa desain ransel Sekolah Rimba modular yang ringkas untuk mengakomodasi
kebutuhan logistik mengajar. Produk menggunakan sistem komponen attachable berbasis MOLLE
yang memungkinkan fleksibilitas pembawaan kebutuhan. Desain ini diharapkan meningkatkan
efisiensi mobilitas guru, memperluas pemerataan pendidikan, serta meningkatkan kualitas Visit
Mobile School sehingga pendidikan kontekstual bagi Orang Rimba dapat terlaksana secara lebih
efektif.
Perpustakaan Digital ITB