digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap aktivitas tektonik gempa bumi. Berdasarkan peta rawan bencana gempa bumi Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi pada tahun 2004, Provinsi Jawa Barat termasuk ke dalam area rawan bencana gempa bumi nomor VI. Beberapa gempa dengan magnitude cukup besar tercatat pernah terjadi di wilayah ini. Kondisi yang demikian ini disebabkan oleh aktivitas tektonik Pulau Jawa yang cukup tinggi karena terletak pada zona pertemuan lempeng tektonik konvergen Indo-Australia dan Eurasia. Pada penelitian ini dilakukan analisis mengenai perubahan kecepatan pergerakan titik pengamatan GPS beserta korelasi atau hubungannya dengan aktivitas tektonik di Provinsi Jawa Barat. Aktivitas tektonik yang dimaksud merupakan fenomena gempa yang umum terjadi di area studi kasus. Data awal yang digunakan adalah data deret waktu dari 17 stasiun pengamatan CORS milik BIG di wilayah Jawa Barat untuk kurun waktu 2008-2018. Data deret waktu ini merupakan hasil dari pengolahan perangkat lunak GAMIT/GLOBK dan perlu dilakukan proses koreksi lanjutan agar kualitas data menjadi lebih baik. Proses koreksi tersebut mencakup koreksi pergerakan Sundaland Block, koreksi coseismic, serta koreksi outlier. Setelah proses koreksi selesai dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah perhitungan nilai kecepatan serta arah vektor kecepatan pergerakan dari stasiun pengamatan GPS-CORS per dua tahun. Dari proses tersebut, memperlihatkan hasil bahwa perubahan kecepatan terjadi pada setiap stasiun CORS. Stasiun-stasiun CORS bergerak dengan kecepatan dan arah yang variatif atau selalu berubah terhadap waktu. Dari perhitungan besar perubahan kecepatan stasiun CORS yang diakibatkan oleh aktivitas kegempaan serta perhitungan jarak stasiun dari pusat gempa, dapat diketahui bahwa nilai besar perubahan kecepatan pergerakan titik pengamatan GPS berkorelasi sangat kuat terhadap magnitude gempa serta berkorelasi kuat terhadap jarak stasiun dengan pusat gempa.