Pemanfaatan energi hidrokinetik pada aliran keluaran PLTA merupakan salah satu
alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan tanpa memerlukan
pembangunan infrastruktur utama yang signifikan. PLTA Jatigede memiliki saluran
tailrace open channel yang merupakan saluran keluaran air yang berpotensi
dimanfaatkan sebagai lokasi pemasangan turbin hidrokinetik karena masih
memiliki energi kinetik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perancangan dan
optimasi turbin hidrokinetik tipe H-Darrieus yang sesuai dengan karakteristik aliran
pada tailrace open channel PLTA Jatigede. Perancangan dilakukan dengan
menentukan beberapa parameter tetap berdasarkan literatur dan tiga parameter yang
divariasikan yaitu solidity (?), blade pitch angle (?), dan tip speed ratio (TSR)
untuk mencari nilai koefisien daya (CP) yang optimum.
Data perancangan diperoleh dari karakteristik aliran tailrace PLTA Jatigede. Debit
perancangan ditentukan berdasarkan debit andalan Q40 sebesar 60 m3/s. Hasil
pengukuran menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP)
menunjukkan debit rata-rata terukur sebesar 59,7 m3/s, kecepatan rata-rata aliran
sebesar 0,868 m/s, dan kedalaman maksimum sebesar 2,28 m. Berdasarkan kondisi
tersebut, turbin H-Darrieus dirancang dengan tinggi 2 m, diameter 1,33 m, dan
aspect ratio 1,5 dengan profil hydrofoil S-1046 sebanyak tiga buah sudu. Dengan
dimensi tersebut, daya turbin hidrokinetik teoretis maksimum adalah sebesar
870,39 W untuk satu unit turbin.
Penelitian dilakukan menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD)
2D transien dengan model turbulensi k-? SST. Simulasi CFD digunakan untuk
mendapatkan nilai respons koefisien daya (CP) pada setiap kombinasi parameter
input. Titik awal simulasi disusun menggunakan metode maximin Latin Hypercube
Design untuk memperoleh sebaran titik yang merata pada ruang desain. Kemudian
data hasil simulasi CFD digunakan untuk membangun surrogate model berbasis
Gaussian Process Regression (GPR). Proses optimasi dilakukan menggunakan
Bayesian optimization dengan acquisition function berupa Expected Improvement
(EI). Model GPR digunakan untuk memprediksi respons CP optimum dan
menentukan kandidat titik simulasi tambahan yang memiliki potensi peningkatan
performa. Proses ini dilakukan secara iteratif hingga tercapai konvergensi pada
desain optimum.
Hasil optimasi menunjukkan bahwa konfigurasi optimum diperoleh pada ? =
0,1821, ? = ?6,3077o, dan TSR = 1,7628 dengan nilai koefisien daya (CP) sebesar
0,4370 yang menghasilkan daya turbin sebesar 380,34 W untuk satu unit turbin.
Model GPR akhir mampu menggambarkan hubungan antara parameter input dan
respons CP dengan tingkat kesesuaian yang cukup baik dengan evaluasi nilai R2 =
0,9998, RMSE = 0,0017, dan MAE = 0,00103. Hasil ini menunjukkan bahwa
kombinasi simulasi CFD, model GPR, dan proses Bayesian optimization cukup
baik digunakan untuk mendukung proses optimasi turbin hidrokinetik dengan
jumlah simulasi yang terbatas.
Analisis terkait pengaruh parameter menunjukkan bahwa solidity, blade pitch
angle, dan TSR berpengaruh signifikan terhadap performa turbin. Parameter
solidity yang terlalu tinggi menyebabkan pembentukan daerah wake yang lebih
luas, vortex yang lebih kuat, dan efek blockage yang menyebabkan munculnya torsi
negatif pada beberapa posisi azimuth angle. Parameter blade pitch angle yang
terlalu negatif menurunkan torsi maksimum akibat sudut serang efektif yang kurang
optimum, sedangkan blade pitch angle 0o dan positif memicu separasi aliran,
vortex, dan potensi terjadinya dynamic stall. TSR yang terlalu rendah menghasilkan
daya turbin rendah akibat kecepatan sudut turbin yang kecil, sedangkan TSR yang
terlalu tinggi meningkatkan wake interaction dan vortex sehingga torsi maksimum
menurun dan menyebabkan torsi negatif muncul pada beberapa posisi azimuth
angle. Konfigurasi optimum menghasilkan keseimbangan terbaik antara torsi
maksimum, torsi minimum yang tetap positif, serta karakteristik aliran yang lebih
stabil dibandingkan konfigurasi lainnya.
Evaluasi juga dilakukan pada variasi kecepatan aliran tailrace 0,5 – 1,5 m/s dengan
konfigurasi turbin optimum dan pada kecepatan putar turbin yang konstan.
Perubahan kecepatan aliran memengaruhi TSR operasi turbin dan daya yang
dihasilkan, namun nilai koefisien daya cenderung terjaga ketika turbin dioperasikan
pada TSR yang mendekati nilai optimum. Hasil ini menunjukkan bahwa pola
pengaturan operasi turbin agar tetap berada pada rentang TSR optimum menjadi
faktor penting untuk memaksimalkan pemanfaatan energi hidrokinetik pada tailrace
PLTA Jatigede dengan kondisi kecepatan aliran yang bervariasi.
Perpustakaan Digital ITB