Jatuh merupakan salah satu penyebab utama cedera serius pada lansia dan dapat
menimbulkan dampak yang lebih berat apabila pertolongan tidak diberikan secara
cepat. Pemantauan Closed-Circuit Television (CCTV) secara manual selama 24 jam
tidak efisien, bergantung pada kewaspadaan operator, dan berisiko menimbulkan
keterlambatan respons. Oleh karena itu, diperlukan sistem deteksi jatuh otomatis
yang mampu bekerja secara real-time pada aliran video CCTV. Tugas akhir ini
bertujuan merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi sistem deteksi
jatuh real-time pada CCTV berbasis skeleton dengan arsitektur Spatial-Temporal
Graph Convolutional Network++ (ST-GCN++).
Sistem yang dikembangkan menerima masukan video CCTV berbasis Real-Time
Streaming Protocol (RTSP), kemudian melakukan estimasi pose manusia untuk
memperoleh representasi skeleton. Estimasi pose dilakukan menggunakan YOLO
(You Only Look Once) Pose dengan format tujuh belas titik kunci tubuh manusia
berdasarkan Common Objects in Context 17 (COCO-17), sedangkan pelacakan
individu antar-frame dilakukan menggunakan ByteTrack. Data skeleton kemudian
diklasifikasikan menggunakan ST-GCN++ empat aliran, yaitu joint, bone, jointmotion,
dan bone-motion. Representasi joint memuat posisi titik kunci tubuh, bone
memuat hubungan antar titik kunci yang membentuk segmen tubuh, sedangkan
joint-motion dan bone-motion memuat perubahan posisi dan perubahan segmen
tubuh antarwaktu. Dengan pendekatan ini, tubuh manusia direpresentasikan sebagai
graf spasial-temporal sehingga hubungan antarsendi dan perubahan gerak dapat
dipertahankan dalam proses klasifikasi jatuh. Pendekatan berbasis skeleton juga
mengurangi ketergantungan model terhadap informasi visual latar belakang karena
klasifikasi dilakukan berdasarkan pola gerak tubuh.
Evaluasi model dilakukan pada dataset publik dan dataset mandiri. Pada dataset
publik, pengujian dilakukan menggunakan 5-fold cross-validation (CV) pada level
video untuk menilai kemampuan model mengenali pola jatuh pada variasi kamera,
subjek, dan lingkungan yang berbeda. Benchmark utama menggunakan lima dataset
publik dengan total 1.529 video yang terdiri atas 472 video jatuh dan 1.057 video
aktivitas harian atau Activities of Daily Living (ADL). Pada lima dataset utama
tersebut, model memperoleh rata-rata sensitivitas sebesar 86,9%, spesifisitas
ii
sebesar 92,0%, dan F1-score sebesar 86,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa
arsitektur ST-GCN++ mampu mengenali pola jatuh pada berbagai dataset publik,
meskipun performa dapat menurun ketika terdapat perbedaan domain data yang
cukup besar.
Pada dataset mandiri, evaluasi dilakukan menggunakan 147 video. Sistem
memperoleh sensitivitas sebesar 88,9%, spesifisitas sebesar 84,7%, dan F1-score
sebesar 75,3%. Sensitivitas menunjukkan kemampuan sistem mendeteksi kejadian
jatuh, spesifisitas menunjukkan kemampuan sistem mengenali aktivitas bukan
jatuh, sedangkan F1-score menunjukkan keseimbangan antara ketepatan prediksi
jatuh dan kemampuan mendeteksi kejadian jatuh. Ketiga metrik tersebut digunakan
karena deteksi jatuh tidak hanya membutuhkan kemampuan mendeteksi kejadian
jatuh, tetapi juga kemampuan menekan kesalahan deteksi pada aktivitas harian yang
memiliki kemiripan gerak.
Kontribusi utama tugas akhir ini adalah pengembangan dan evaluasi sistem deteksi
jatuh real-time pada CCTV berbasis skeleton ST-GCN++ yang mencakup alur kerja
dari akuisisi video, estimasi pose, pelacakan individu, klasifikasi jatuh, hingga
keluaran kejadian. Tugas akhir ini juga menunjukkan bahwa representasi graf
spasial-temporal dapat digunakan untuk membangun sistem deteksi jatuh yang
lebih terukur dibandingkan pendekatan berbasis aturan sederhana. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sistem pemantauan keselamatan
berbasis visi komputer yang lebih andal, terukur, dan ramah privasi, khususnya
untuk lingkungan dalam ruangan yang membutuhkan respons cepat terhadap
kejadian jatuh.
Perpustakaan Digital ITB