Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negara dengan tingkat indeks
risiko bencana global. Bandung menjadi salah satu wilayah yang memiliki kerentanan
geologi signifikan akibat aktivitas Sesar Lembang dan risiko gunung api. Di tengah
ancaman ini, remaja Tuli (usia 15-18 tahun) menjadi kelompok yang paling rentan karena
keterbatasan akses terhadap sistem peringatan dini dan media edukasi yang mayoritas
berbasis audio serta teks kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi
mobile edukasi kesiapsiagaan bencana yang inklusif bagi remaja Tuli di Bandung. Dengan
menggunakan metode perancangan Double Diamond dan pendekatan wawancara,
observasi, dan netnografi, ditemukan bahwa remaja Tuli memiliki ketergantungan tinggi
pada persepsi visual namun mengalami hambatan linguistik pada informasi konvensional.
Sebagai solusi, dirancang sebuah aplikasi mobile kesiapsiagaan bencana yang memiliki
dua mode, yaitu mode belajar dan mode darurat. Dalam mode belajar, konten edukasi
dirancang dengan pendekatan gamifikasi untuk meningkatkan motivasi dan retensi,
sedangkan mode darurat dirancang agar memiliki navigasi yang sederhana. Hasil
perancangan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat kerentanan serta meningkatkan
kemandirian remaja Tuli dalam menghadapi bencana geologi secara efektif dan
menyenangkan.
Perpustakaan Digital ITB