digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negara dengan tingkat indeks risiko bencana global. Bandung menjadi salah satu wilayah yang memiliki kerentanan geologi signifikan akibat aktivitas Sesar Lembang dan risiko gunung api. Di tengah ancaman ini, remaja Tuli (usia 15-18 tahun) menjadi kelompok yang paling rentan karena keterbatasan akses terhadap sistem peringatan dini dan media edukasi yang mayoritas berbasis audio serta teks kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi mobile edukasi kesiapsiagaan bencana yang inklusif bagi remaja Tuli di Bandung. Dengan menggunakan metode perancangan Double Diamond dan pendekatan wawancara, observasi, dan netnografi, ditemukan bahwa remaja Tuli memiliki ketergantungan tinggi pada persepsi visual namun mengalami hambatan linguistik pada informasi konvensional. Sebagai solusi, dirancang sebuah aplikasi mobile kesiapsiagaan bencana yang memiliki dua mode, yaitu mode belajar dan mode darurat. Dalam mode belajar, konten edukasi dirancang dengan pendekatan gamifikasi untuk meningkatkan motivasi dan retensi, sedangkan mode darurat dirancang agar memiliki navigasi yang sederhana. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat kerentanan serta meningkatkan kemandirian remaja Tuli dalam menghadapi bencana geologi secara efektif dan menyenangkan.