Penyu laut merupakan spesies kunci yang keberadaannya dilindungi, namun siklus
hidupnya di darat kian terancam oleh tekanan aktivitas antropogenik dan perubahan
bentang alam. Di pesisir selatan Indonesia, khususnya Cilacap, ancaman terhadap
sarang alami, mulai dari lintasan kendaraan wisata, predasi, hingga abrasi dan
Pembangunan, menjadikan relokasi telur sebagai strategi intervensi yang vital.
Praktik ini, yang telah menjadi metode konservasi global sejak pertengahan abad
ke-20, bertujuan memindahkan telur ke area yang lebih aman. Namun, realitas di
lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan mulia konservasi dan
fasilitas yang tersedia. Petugas konservasi sering kali harus menempuh jarak patroli
hingga 30 km menggunakan sepeda motor trail di medan yang ekstrem, hanya
bermodalkan wadah improvisasi seperti kantong plastik atau tas laptop. Kondisi ini
meningkatkan risiko guncangan vertikal yang fatal bagi embrio serta paparan
fluktuasi suhu ekstrem.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Human-Centered Design (HCD) dengan
metode kualitatif eksploratif-deskriptif untuk menjembatani kebutuhan ekologis telur
serta tantangan operasional petugas di lapangan. Melalui observasi partisipatif dan
wawancara mendalam, perancangan difokuskan pada pengembangan alat bantu
mobilisasi yang adaptif terhadap kondisi medan pesisir serta aktivitas relokasi telur
di lapangan. Hasil perancangan menghadirkan solusi produk fisik yang dirancang
untuk meminimalkan guncangan mekanis serta menjaga stabilitas termal selama
proses relokasi telur. Desain ini menawarkan solusi adaptif, terukur, dan low-cost
yang secara signifikan dapat mengurangi risiko mortalitas telur akibat proses
relokasi, sekaligus memberikan standar baru dalam praktik konservasi yang lebih
ergonomis dan bermartabat bagi para garda depan pelestarian satwa di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB