Kepiting famili Sesarmidae merupakan fauna bentik yang berperan penting dalam dinamika
ekosistem mangrove melalui aktivitas bioturbasi sedimen, dekomposisi bahan organik, serta
pengendalian siklus unsur hara. Meskipun demikian, peran ekologisnya sering terabaikan dalam
strategi konservasi dan restorasi mangrove. Disertasi ini bertujuan untuk menganalisis dan
memodelkan peranan kepiting Sesarmidae dalam dinamika unsur hara, biomassa, dan stok karbon
mangrove di Teluk Demta, Papua. Kebaharuan disertasi ini terletak pada pendekatan integratif,
yang menghubungkan analisis struktur vegetasi mangrove, karakteristik habitat, aktivitas kepiting,
dinamika unsur hara, biomassa dan stok karbon, serta pemodelan sistem dinamis dalam suatu
kerangka ekologis. Hipotesis yang diuji adalah kepiting Sesarmidae berperan dalam dinamika
unsur hara, biomassa, dan karbon mangrove, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 1-20 September 2024 di 10 stasiun penelitian dengan
total area 40.000 m² menggunakan metode transek garis. Setiap stasiun terdiri atas dua transek
(100 m × 20 m) dan delapan plot (10 m × 10 m), sehingga diperoleh 20 transek dan 80 plot. Data
kepiting Sesarmidae dikumpulkan menggunakan dua kuadrat (1 m × 1 m) per plot (total 160
kuadrat). Parameter tanah (bulk density, suhu, kelembapan, pH, salinitas, dan karbon organik)
diukur menggunakan sensor in situ dan pengambilan sampel inti. Analisis mencakup struktur
vegetasi mangrove, populasi kepiting, karakteristik habitat, dan meta analisis unsur hara tanah.
Biomassa dan karbon diestimasi secara alometrik, sedangkan analisis statistik meliputi deskripsi
statistik indeks ekologi, regresi linier berganda, korelasi Pearson, dan PCA. Pemodelan
menggunakan STELLA Professional 4.1.1, yang memvisualisasikan hubungan sebab-akibat
melalui struktur stock-flow dan mekanisme umpan balik (feedback loops). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Teluk Demta terdiri atas 14 spesies dari enam famili
dengan tingkat keanekaragaman sedang (1,36 ± 0,25) dan struktur komunitas yang relatif stabil.
Kondisi habitat secara umum mendukung pertumbuhan mangrove, yang ditunjukkan oleh nilai
parameter tanah seperti bulk density (0,63 ± 0,21 g cm?³), suhu (29,21 ± 1,54 °C), kelembapan
(48,70 ± 18,53%), pH (6,80 ± 0,32), salinitas (24,79 ± 2,98 PSU), dan karbon organik yang tinggi.
Faktor edafik, khususnya salinitas, pH, dan kelembapan, terbukti berperan penting dalam
menentukan pola distribusi dan dominansi spesies. Kelompok Rhizophora dan Bruguiera
mendominasi pada kondisi salin, sedangkan spesies lain menunjukkan preferensi habitat yang
lebih spesifik, mencerminkan pola zonasi ekologis yang khas. Penilaian status ekosistem
menunjukkan nilai rata-rata 2,63 mengindikasikan kondisi mangrove masih tergolong alami
dengan ketersediaan unsur hara yang umumnya optimal, meskipun fosfor relatif terbatas. Analisis
PCA memperlihatkan bahwa distribusi spesies dan dinamika unsur hara dikendalikan oleh
interaksi antara faktor fisik, kimia, dan biologis dalam ekosistem mangrove. Sebanyak delapan
spesies kepiting Sesarmidae yang ditemukan, dengan dominansi dari genus Parasesarma,
berperan sebagai perekayasa ekosistem melalui aktivitas bioturbasi dan biodekomposisi.
Meskipun tidak ditemukan hubungan linier yang signifikan antara kepiting dengan biomassa dan
stok karbon (r = –0,02 hingga –0,29; p > 0,4), analisis menunjukkan bahwa kepiting berperan
secara tidak langsung melalui peningkatan aerasi sedimen, percepatan dekomposisi, dan
peningkatan ketersediaan unsur hara. Proses ini berkontribusi pada peningkatan efisiensi siklus
karbon dan produktivitas mangrove. Selain itu, perbedaan relung antarspesies kepiting
menunjukkan adanya functional complementarity yang mendukung stabilitas ekosistem. Dalam
konteks hubungan ekologis ini, peranan kepiting Sesarmidae sebagai komponen biologi yang
penting, sebagai koefisien ekologis yang mengatur proses ekologi dalam ekosistem mangrove.
Model sistem dinamis yang dikembangkan berhasil merepresentasikan interaksi kompleks antara
kepiting, sedimen, unsur hara, biomassa, dan karbon dalam kerangka non-linear berbasis umpan
balik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan kepadatan kepiting meningkatkan
bioturbasi dan ketersediaan unsur hara, yang berdampak pada peningkatan biomassa dan stok
karbon. Meskipun demikian, respons sistem mengikuti pola ambang optimum, dengan kepadatan
moderat menghasilkan kondisi paling stabil dan efisien, sementara kepadatan terlalu rendah atau
tinggi menurunkan efisiensi fungsi ekosistem. Analisis ketidakpastian menjelaskan bahwa model
memiliki robustness yang baik dan tidak mengubah arah hubungan sebab-akibat dalam kisaran
variasi parameter yang realistis. Hasil validasi menunjukkan model cukup akurat pada kepadatan
kepiting moderat hingga tinggi dengan relative error < 0,1 atau 10%, meskipun masih perlu
kalibrasi pada kondisi bioturbasi rendah. Secara keseluruhan, kepiting Sesarmidae berperan
sebagai pengendali proses ekologis yang memediasi hubungan antara sedimen, unsur hara, dan
struktur vegetasi mangrove. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan pengelolaan mangrove
berbasis peran fungsional bioturbasi dan biodekomposisi kepiting Sesarmidae dengan
mengintegrasikan komponen biotik dan abiotik. Model sistem dinamis yang dikembangkan
menyediakan kerangka operasional untuk memahami peran ekologis kepiting dan mendukung
strategi konservasi mangrove berbasis karbon biru dalam menghadapi perubahan iklim di
ekosistem pesisir tropis.
Perpustakaan Digital ITB