Investasi Langsung Asing (Foreign Direct Investment/FDI) telah diakui secara luas
sebagai pendorong penting transformasi ekonomi di negara-negara berkembang.
Selain perannya sebagai sumber modal, FDI berkontribusi pada peningkatan
produktivitas melalui transfer teknologi, praktik manajerial, dan partisipasi dalam
rantai nilai global. Namun, di Indonesia, aliran masuk FDI menunjukkan fluktuasi
yang cukup besar dari waktu ke waktu, yang sering kali bertepatan dengan periode
ketidakstabilan makroekonomi dan guncangan eksternal. Pola ini menunjukkan
bahwa keputusan investor asing sangat erat kaitannya dengan lingkungan
makroekonomi yang lebih luas, bukan semata-mata pada prospek pertumbuhan
domestik.
Penelitian ini mengkaji bagaimana indikator makroekonomi terpilih, pergerakan
nilai tukar, inflasi, pertumbuhan PDB, keterbukaan perdagangan, dan neraca
perdagangan, berhubungan dengan aliran masuk FDI di Indonesia yang diukur
sebagai persentase dari PDB. Analisis ini menggunakan data kuartalan dari kuartal
keempat tahun 1994 (1994Q4) hingga kuartal keempat tahun 2024 (2024Q4),
sebuah periode yang mencakup krisis ekonomi besar, perubahan rezim kebijakan,
dan fase liberalisasi perdagangan. Kerangka Ordinary Least Squares (OLS)
digunakan, dengan inferensi statistik yang didasarkan pada standar error NeweyWest yang konsisten terhadap heteroskedastisitas dan autokorelasi (HAC) untuk
memastikan kesimpulan yang valid di tengah adanya korelasi serial dan varians
yang tidak konstan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel yang terkait dengan sektor
eksternal, khususnya keterbukaan perdagangan dan neraca perdagangan, memiliki
hubungan yang lebih konsisten terhadap variasi intensitas FDI dibandingkan
dengan indikator pertumbuhan domestik. Pergerakan nilai tukar dan pertumbuhan
PDB tidak menunjukkan efek yang signifikan secara statistik setelah standar error
yang kuat (robust) diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa jalur valuasi dan
ketidakpastian yang saling bertentangan mungkin saling menetralkan dalam
rentang waktu yang panjang. Inflasi hanya menunjukkan kekuatan penjelas yang
terbatas, mencerminkan perannya yang ambigu baik sebagai sinyal penyesuaian
makroekonomi maupun sebagai sumber ketidakpastian. Secara keseluruhan,
temuan ini menyoroti kompleksitas hubungan antara makroekonomi dan FDI di
Indonesia, serta memberikan peringatan agar tidak menginterpretasikan indikator
makro agregat sebagai instrumen kebijakan langsung untuk menarik investasi
asing.
Kata Kunci: Investasi Langsung Asing, Indikator Makroekonomi, Nilai Tukar,
Keterbukaan Perdagangan, Stabilitas Ekonomi, Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB