digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Investasi Langsung Asing (Foreign Direct Investment/FDI) telah diakui secara luas sebagai pendorong penting transformasi ekonomi di negara-negara berkembang. Selain perannya sebagai sumber modal, FDI berkontribusi pada peningkatan produktivitas melalui transfer teknologi, praktik manajerial, dan partisipasi dalam rantai nilai global. Namun, di Indonesia, aliran masuk FDI menunjukkan fluktuasi yang cukup besar dari waktu ke waktu, yang sering kali bertepatan dengan periode ketidakstabilan makroekonomi dan guncangan eksternal. Pola ini menunjukkan bahwa keputusan investor asing sangat erat kaitannya dengan lingkungan makroekonomi yang lebih luas, bukan semata-mata pada prospek pertumbuhan domestik. Penelitian ini mengkaji bagaimana indikator makroekonomi terpilih, pergerakan nilai tukar, inflasi, pertumbuhan PDB, keterbukaan perdagangan, dan neraca perdagangan, berhubungan dengan aliran masuk FDI di Indonesia yang diukur sebagai persentase dari PDB. Analisis ini menggunakan data kuartalan dari kuartal keempat tahun 1994 (1994Q4) hingga kuartal keempat tahun 2024 (2024Q4), sebuah periode yang mencakup krisis ekonomi besar, perubahan rezim kebijakan, dan fase liberalisasi perdagangan. Kerangka Ordinary Least Squares (OLS) digunakan, dengan inferensi statistik yang didasarkan pada standar error NeweyWest yang konsisten terhadap heteroskedastisitas dan autokorelasi (HAC) untuk memastikan kesimpulan yang valid di tengah adanya korelasi serial dan varians yang tidak konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel yang terkait dengan sektor eksternal, khususnya keterbukaan perdagangan dan neraca perdagangan, memiliki hubungan yang lebih konsisten terhadap variasi intensitas FDI dibandingkan dengan indikator pertumbuhan domestik. Pergerakan nilai tukar dan pertumbuhan PDB tidak menunjukkan efek yang signifikan secara statistik setelah standar error yang kuat (robust) diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa jalur valuasi dan ketidakpastian yang saling bertentangan mungkin saling menetralkan dalam rentang waktu yang panjang. Inflasi hanya menunjukkan kekuatan penjelas yang terbatas, mencerminkan perannya yang ambigu baik sebagai sinyal penyesuaian makroekonomi maupun sebagai sumber ketidakpastian. Secara keseluruhan, temuan ini menyoroti kompleksitas hubungan antara makroekonomi dan FDI di Indonesia, serta memberikan peringatan agar tidak menginterpretasikan indikator makro agregat sebagai instrumen kebijakan langsung untuk menarik investasi asing. Kata Kunci: Investasi Langsung Asing, Indikator Makroekonomi, Nilai Tukar, Keterbukaan Perdagangan, Stabilitas Ekonomi, Indonesia.