Pesatnya perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia menimbulkan
kesenjangan yang terus berlanjut antara tingginya inklusi keuangan dan rendahnya literasi
keuangan, sehingga pengguna rentan terhadap penipuan, jeratan utang, dan pengambilan
keputusan keuangan yang keliru. Namun, belum tersedia instrumen baku untuk mengukur
Literasi Keuangan Digital (Digital Financial Literacy/DFL) yang sesuai dengan kondisi
sosial-ekonomi dan infrastruktur Indonesia. Penelitian ini mengembangkan indeks DFL
multidimensi pertama untuk konteks Indonesia melalui desain mixed-methods sekuensial. Studi
pendahuluan dan tinjauan pustaka sistematis terlebih dahulu menetapkan domain konseptual.
Tahap kuantitatif kemudian menguji konstruk menggunakan Partial Least Squares Structural
Equation Modeling (PLS-SEM) dan memvalidasi empat dimensi, yaitu Pengetahuan Keuangan
Digital, Keterampilan Keuangan Digital, Sikap Keuangan Digital, dan Perilaku Keuangan
Digital, beserta faktor moderasi individual dan lingkungan. Tahap kualitatif yang terdiri atas
empat belas wawancara pakar dan analisis tematik memperkuat struktur tersebut dan
menyempurnakan sembilan belas sub-kriteria. Selanjutnya, Analytic Hierarchy Process (AHP)
dengan panel pakar yang sama menghasilkan bobot relatif dimensi dan indikator, di mana
Sikap Keuangan Digital menjadi dimensi yang paling berpengaruh. Bobot yang telah
tervalidasi tersebut digabungkan menjadi skema penilaian komposit dengan tiga kategori
tingkat literasi dan sebuah peta jalan strategis untuk intervensi. Indeks yang dihasilkan
memberikan pembuat kebijakan, regulator, lembaga keuangan, dan pendidik sebuah alat ukur
terkontekstualisasi dan berbasis bukti untuk mengukur serta meningkatkan literasi keuangan
digital di Indonesia.
Kata kunci: Literasi Keuangan Digital, Indeks, PLS-SEM, Analytic Hierarchy Process,
Indonesia
Perpustakaan Digital ITB