digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Stagnasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% mencerminkan gejala diskoneksi antara intermediasi keuangan dan transformasi industri, di mana ekspansi kredit belum secara memadai dialokasikan ke sektor-sektor produktif yang mendukung kerangka pertumbuhan ekonomi yang kuat. Tesis ini mengkaji apakah peningkatan kredit bank kepada industri hilirisasi dapat mendukung transformasi struktural sekaligus tetap menjaga ketahanan keuangan perbankan. Dengan menggunakan data kuartalan bank-bank milik negara (HIMBARA) periode 2010–2025, studi ini menerapkan regresi panel threshold untuk mengidentifikasi pengaruh non-linear pertumbuhan kredit hilirisasi terhadap profitabilitas bank (ROA, ROE, NIM), risiko kredit (NPL), dan konsentrasi kredit (HHI). Untuk menilai dampak secara makro, studi ini mengembangkan model Financial Computable General Equilibrium (FCGE), yaitu AMELIA-F 2.0, yang mengintegrasikan intermediasi keuangan dengan kondisi ekonomi riil. Hasil ekonometrika menunjukkan bahwa bank-bank HIMBARA masih memiliki kapasitas moderat untuk memperluas kredit kepada industri hilirisasi, dengan ambang batas profitabilitas sekitar 29% pertumbuhan kredit tahunan, atau sekitar Rp54 triliun sebelum secara signifikan menyebabkan penurunan profitabilitas (tahun basis 2025). Namun demikian, ambang batas indikatif yang lebih rendah muncul dari risiko kredit dan risiko konsentrasi, sehingga menunjukkan bahwa ambang batas prudensial dapat diamati lebih awal dan perlu berfungsi sebagai indikator peringatan dini. Simulasi FCGE lebih lanjut menunjukkan bahwa ekspansi kredit semata hanya menghasilkan kenaikan pertumbuhan yang bersifat sementara dan dapat menimbulkan crowding-out secara sektoral, sedangkan ekspansi kredit yang disertai peningkatan produktivitas menghasilkan dampak ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan, termasuk peningkatan investasi, penguatan struktur ekonomi berbasis manufaktur, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan PDB jangka panjang yang mendekati 6%. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan kredit terarah dapat mendukung agenda hilirisasi Indonesia apabila diterapkan dengan praktik kehati-hatian perbankan dan dilengkapi dengan kebijakan industri yang mendorong peningkatan produktivitas.