Power Domain–Non-Orthogonal Multiple Access (PD-NOMA) merupakan salah
satu teknik akses jamak yang menjanjikan untuk sistem komunikasi nirkabel
generasi mendatang, terutama karena kemampuannya meningkatkan efisiensi
spektral melalui superposisi sinyal di domain daya dan penerapan Successive
Interference Cancellation (SIC). Pada PD-NOMA, beberapa pengguna berbagi satu
blok sumber daya secara bersamaan dengan level daya berbeda, sehingga jumlah
pengguna yang dapat dilayani jauh melampaui batas yang ditetapkan oleh teknik
akses jamak ortogonal konvensional. Namun, kinerja PD-NOMA sangat
bergantung pada strategi pengelompokan pengguna yang efektif: pengguna dalam
satu klaster harus memiliki kondisi kanal yang cukup berbeda agar SIC dapat
memisahkan sinyal secara andal, dan semakin banyak pengguna dalam satu klaster,
semakin tinggi risiko propagasi kesalahan yang menurunkan sum rate sistem.
Penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi pendekatan berbasis sektorisasi
spasial statis, namun pendekatan ini tidak adaptif terhadap distribusi pengguna yang
dinamis karena batas sektor yang tetap tidak dapat menyesuaikan diri dengan
perubahan posisi pengguna secara real-time. Selain itu, metode pengelompokan
yang ada umumnya mengabaikan informasi posisi spasial pengguna secara terpadu
dan tidak mengintegrasikan batasan operasional SIC langsung ke dalam proses
pembentukan klaster, sehingga klaster yang terbentuk belum tentu layak secara
teknis untuk dekoding bertahap yang andal.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, penelitian ini mengusulkan metode
pengelompokan pengguna dinamis berbasis unsupervised learning dengan
menggabungkan hierarchical clustering dan optimisasi berbasis Differential
Evolution (DE). Pendekatan ini dikembangkan melalui dua sub-tahap yang saling
melengkapi. Pertama, constraint-driven hierarchical clustering yang
mengintegrasikan batasan operasional SIC, yaitu maksimum 8 pengguna per klaster
dan rentang sudut (angular span) maksimum 60°, langsung ke dalam loop
penggabungan algoritma. Kedua, integrasi optimisasi DE untuk mencari vektor
bobot fitur spasial w = (w_1, w_2, w_3) yang optimal secara adaptif, dengan menimbang
tiga fitur utama, yaitu jarak, sudut relatif, dan penguatan kanal yang bertujuan untuk
memaksimalkan sum rate sistem. Tidak separate metode konvensional, pendekatan
yang diusulkan tidak memerlukan data latih dan dapat beradaptasi terhadap
berbagai distribusi pengguna secara langsung.
Hasil simulasi membuktikan bahwa pendekatan yang diusulkan secara konsisten
menghasilkan sum rate yang lebih tinggi dibandingkan metode pembanding.
Pengelompokan berbasis hierarchical clustering dengan batasan operasional
mampu meningkatkan sum rate hingga 23% dibandingkan hierarchical clustering
tanpa batasan pada kondisi 30 pengguna dan daya transmit 30 dBm. Integrasi
optimisasi DE lebih lanjut meningkatkan rata-rata sum rate sebesar 29,4%
dibandingkan hierarchical clustering standar pada rentang daya 30–50 dBm,
dengan efisiensi per klaster optimal sebesar 44,14 Mbps pada konfigurasi 8
pengguna per klaster. Analisis juga menunjukkan bahwa konfigurasi optimal
tercapai ketika ketiga fitur digabungkan, dan penggunaan 8 pengguna per klaster
memberikan keseimbangan terbaik antara efisiensi spektral dan kompleksitas
sistem. Temuan ini membuktikan bahwa integrasi hierarchical clustering dengan
optimisasi DE menghasilkan strategi pengelompokan yang dinamis, adaptif, dan
tidak bergantung pada data latih, sehingga sangat sesuai untuk lingkungan jaringan
nirkabel yang berubah-ubah dan mendukung peningkatan sum rate PD-NOMA
secara signifikan.
Perpustakaan Digital ITB