digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 5 Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Andika Rifki Afandi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Penelitian ini mengkaji perancangan ulang workflow produksi konten Instagram yang terintegrasi AI untuk meningkatkan kecepatan, konsistensi, dan keandalan layanan bagi klien SME di Pallas Creative, sebuah agensi digital marketing. Seiring meningkatnya ketergantungan SME pada Instagram untuk membangun awareness dan mendorong penjualan, agensi dituntut untuk menghasilkan konten secara tepat waktu dan konsisten. Namun, tantangan operasional seperti brief yang kurang jelas, revisi berulang, dan koordinasi yang terfragmentasi sering memicu keterlambatan, rework, serta lead time yang tidak stabil. Karena itu, penelitian ini menyoroti masalah utama yaitu bagaimana workflow produksi konten berbasis AI dapat dirancang dan diimplementasikan untuk mengurangi inefisiensi tanpa mengorbankan kualitas konten dan kepuasan klien dalam konteks agensi dan SME. Konteks penelitian ini menegaskan kebutuhan akan tata kelola workflow yang lebih terstruktur pada lingkungan media sosial yang dinamis, di mana momentum konten, responsivitas, dan disiplin operasional sama pentingnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Design Science Research yang didukung oleh Business Process Management. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan pihak internal yang terlibat dalam operasional produksi konten serta perwakilan klien SME, serta dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi internal. Workflow eksisting dipetakan menggunakan BPMN untuk mengidentifikasi bottleneck dan loop revisi, sedangkan analisis tematik dan root cause analysis digunakan untuk menyusun temuan, termasuk pengelompokan menggunakan lensa Technology Organization Environment. Temuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan desain dan prinsip perancangan untuk membangun artefak workflow usulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inefisiensi bersifat sistemik dan terutama dipengaruhi oleh keselarasan tahap awal yang lemah, termasuk ketidakjelasan brief dan ketidaksiapan aset, siklus approval dan revisi yang panjang dengan feedback yang terfragmentasi, keterbatasan tracking dan kontrol versi antar tools, serta bottleneck operasional akibat ketergantungan peran dan tingginya permintaan mendadak. Berdasarkan temuan tersebut, workflow berbasis AI yang diusulkan mencakup brief readiness gate, tata kelola revisi dan approval yang lebih jelas melalui single gate approval dan feedback terstruktur, tracking dan versioning terpusat sebagai single source of truth, alur produksi dual lane untuk konten planned dan momentum, serta dukungan AI dengan pendekatan human in the loop untuk pengembangan brief, ideasi, drafting, dan quality check. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan blueprint workflow praktis yang membantu agensi yang melayani SME menurunkan lead time dan rework sekaligus menjaga konsistensi serta keandalan layanan.