Produk kosmetik telah menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa lepas dari rutinitas sehari-hari. Dalam formulasinya, produk kosmetik umumnya mengandung pengawet untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan memperpanjang masa simpan produk. Salah satu pengawet kimia yang umum digunakan adalah DMDM Hydantoin. Namun, penggunaan DMDM Hydantoin dalam jangka panjang memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, seperti reaksi alergi, iritasi, dan kanker kulit. Untuk mengurangi efek toksisitasnya, DMDM Hydantoin dapat dikombinasikan dengan pengawet alami, seperti biosurfaktan. Biosurfaktan memiliki sifat toksisitas yang lebih rendah, biodegradibilitas yang lebih tinggi, kompatibilitas lingkungan yang lebih baik, pembusaan yang lebih tinggi, selektivitas yang lebih tinggi, serta aktivitas yang spesifik, seperti antimikroba. Salah satu bakteri yang dapat menghasilkan biosurfaktan adalah Bacillus sp. AR3, yang diisolasi dari pasir pantai di Pantai Sebalang, Lampung, Indonesia. Bakteri ini mampu menghasilkan biosurfaktan lipopeptida. Oleh karena itu, diperlukan analisis potensi kombinasi antara DMDM hydantoin dan biosurfaktan Bacillus sp. AR3 sebagai pengawet dalam formulasi produk kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan interaksi kedua antimikroba melalui penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Fractional Inhibitory Concentration Index (FICI) dengan uji checkerboard, menentukan efektivitas pengawet DMDM Hydantoin dan biosurfaktan secara individu dan kombinasi dengan uji kebocoran kalium, serta menentukan status keberterimaan formulasi sediaan krim dengan penambahan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan sesuai dengan Farmakope Indonesia melalui uji tantang pada hari ke-2, 4, 7, 14, 21 dan 28. Seluruh uji dilakukan terhadap 5 mikroorganisme uji, yaitu Escherichia coli ATCC 8739, Staphylococcus aureus ATCC 6538, Pseudomonas aeruginosa ATCC 9027, Candida albicans ATCC 10231, dan Aspergillus brasiliensis ATCC 16404. Berdasarkan nilai FICI, interaksi antara DMDM Hydantoin dan biosurfaktan terhadap lima mikroorganisme uji adalah aditif. Pada uji kebocoran kalium, perlakuan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan masing-masing kedua senyawa. Hasil uji tantang terhadap bakteri menunjukkan bahwa perlakuan penambahan kombinasi antimikroba pada formulasi sediaan krim menunjukkan penurunan >2 log CFU/ mL pada hari ke-2 tanpa peningkatan hingga hari ke-28. Pada ragi dan fungi, menunjukkan adanya penurunan >2 log CFU/mL pada hari ke-2 dan 4 serta tidak ada peningkatan hingga hari ke-28. Hasil ini menunjukkan bahwa formulasi sediaan krim dengan penambahan kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan lolos uji tantang. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kombinasi DMDM Hydantoin dan biosurfaktan bekerja secara aditif dan dapat menurunkan konsentrasi pengawet yang digunakan dalam produk kosmetik.
Perpustakaan Digital ITB