digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


2026_TS_PP_Avis Kafabih-29124033_Approval of Revision
Terbatas  Kartika
» Gedung UPT Perpustakaan

Ekowisata semakin dipromosikan sebagai alternatif berkelanjutan terhadap pariwisata massal. Namun, di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Indonesia, produk ekowisata tertentu—khususnya birdwatching—masih memiliki tingkat familiaritas dan adopsi yang rendah di pasar domestik. Penelitian ini mengkaji permasalahan bisnis yang dihadapi oleh Walktoforest, sebuah wirausaha sosial di Jawa Barat yang mengintegrasikan konservasi, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pariwisata berbasis pengalaman. Meskipun memiliki visibilitas digital yang tinggi, tingkat konversi pemesanan produk birdwatching masih rendah dan berpotensi mengganggu keberlanjutan finansial organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemecahan masalah diagnostik dengan kerangka kerja Pirate Metrics AAARRR (Awareness, Acquisition, Activation, Revenue, Retention, Referral) untuk menganalisis perilaku pelanggan sepanjang funnel digital. Data yang digunakan berupa revealed preference data dari analitik digital internal Walktoforest, meliputi wawasan Instagram, kinerja Meta Ads, log pertanyaan WhatsApp, dan data transaksi dalam periode pengamatan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kinerja penjualan tidak disebabkan oleh kualitas produk, harga, atau keterbatasan permintaan pasar, melainkan oleh hambatan adopsi perilaku akibat rendahnya familiaritas pengalaman. Hambatan utama mencakup penghindaran ketidakpastian, persepsi risiko pengalaman, dan kurangnya kejelasan pengalaman pada tahap keputusan. Meskipun tahap Awareness menghasilkan lebih dari 63.000 impresi, penurunan terbesar terjadi antara Activation dan Revenue, sementara tahap pascapengalaman menunjukkan kinerja yang kuat dengan tingkat rujukan sebesar 75%. Penelitian ini mengusulkan strategi optimalisasi funnel berbasis perilaku untuk meningkatkan konversi produk ekowisata niche.