digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Gabriel Anandityo Wicaksono [17522028]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Desa Sindangheula, Kabupaten Serang, Banten, merupakan sentra kerajinan lidi terbesar di provinsinya, namun produknya masih terbatas pada sapu bernilai jual rendah akibat minimnya inovasi desain, meskipun Indonesia merupakan eksportir sapu lidi terbesar kedua dunia (US$29,32 juta pada 2023; LPEI, 2024). Untuk meningkatkan daya saing kerajinan tersebut, penelitian ini mengembangkan Sculptural Cross, sebuah side table berbahan utama lidi kelapa yang mengangkat lidi dari material komoditas menjadi material furnitur premium. Perancangan dilakukan melalui pendekatan Human Centered Design (HCD), dengan Asset Based Community Development (ABCD) untuk memetakan aset komunitas pengrajin merek kolektif SADILA sebagai pijakan keputusan desain. Produk dibentuk dengan menyilangkan dua modul bundel lidi menjadi struktur X yang sculptural, menonjolkan lengkung organik dan tekstur serat lidi sebagai identitas visual utama, lalu memadukannya dengan rangka serta tali baja nirkarat dan permukaan akrilik frosted untuk menjamin kekuatan dan konsistensi dimensi, sementara pengolahan dan perakitan tetap dikerjakan pengrajin lokal demi mempertahankan nilai craftsmanship. Melalui empat tahap iterasi, prototipe terbukti berdiri mandiri, menahan beban fungsional sebuah side table, dan memenuhi dimensi standar, sementara evaluasi kualitatif lingkup terbatas memberikan indikasi awal penerimaan desain. Sculptural Cross menjadi pembuktian konsep bahwa lidi kelapa layak menjadi material furnitur bernilai tambah tinggi dan berpotensi menyasar celah pasar furnitur premium berbasis serat alam yang dikonfirmasi melalui observasi IFEX 2026, dengan kerangka perancangan yang berpotensi direplikasi pada kerajinan komunitas tradisional lain di Indonesia.